Kalimantan Timur

Harga Bahan Pokok di Kaltim Naik Jelang Iduladha akibat Lonjakan Biaya Distribusi

Teks: Daging ayam menjadi salah satu bahan pokok yang mulai merangkak naik menjelang hari raya kurban. (Dok/Natmed.id)

Samarinda, Natmed.id – Menjelang Hari Raya Iduladha, sejumlah harga bahan pokok di Kaltim mulai mengalami kenaikan. Lonjakan harga terjadi pada beberapa komoditas pangan, terutama daging sapi, seiring meningkatnya biaya distribusi dan transportasi.

Teks: Kepala DPPKUKM Kaltim Heni Purwaningsih (Natmed.id/Aminah)

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim Heni Purwaningsih mengatakan kenaikan harga yang terjadi saat ini bukan dipicu kelangkaan stok, melainkan meningkatnya komponen biaya distribusi di lapangan.

“Biaya distribusi itu salah satu komponennya adalah biaya bahan bakar. Itu juga sudah disuarakan oleh pedagang dan distributor kenapa ada kecenderungan kenaikan harga,” ujar Heni, Sabtu 16 Mei 2026.

Pemerintah tetap mengawasi penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk sejumlah komoditas penting seperti beras dan minyak goreng agar tidak dijual melebihi batas yang telah ditentukan pemerintah.

“Semua komoditi yang ada HET-nya itu tidak boleh dijual di atas HET. Itu ketentuannya,” katanya.

Meski demikian, kondisi di lapangan disebut tidak mudah karena pelaku distribusi juga menghadapi kenaikan ongkos operasional, terutama transportasi dan bahan bakar.

“Kalau dia menggunakan BBM subsidi pasti ada antrean dan jeda waktu. Itu yang menjadi salah satu persoalan distribusi,” ucap Heni.

Pemerintah daerah mengaku telah meminta distributor dan pedagang mencari strategi agar lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat menjelang hari besar keagamaan.

“Kami edukasi distributor dan pedagang supaya untuk kebutuhan pokok dan kepentingan umum tetap diupayakan distribusinya tidak terganggu,” katanya.

Komoditas yang mulai mengalami kenaikan cukup terasa ialah daging sapi. Heni menyebut kebutuhan daging sapi di Kaltim masih sangat bergantung pada pasokan luar daerah sehingga biaya distribusi turut memengaruhi harga jual di pasar.

“Kebutuhan daging sapi kita masih mengandalkan pasokan dari luar daerah. Jadi ada pengaruh biaya distribusi dari sana,” jelasnya.

Berbeda dengan daging sapi, kebutuhan daging ayam di Kaltim disebut relatif lebih aman karena sebagian besar sudah mampu dipenuhi dari produksi lokal.

“Kalau daging ayam kita sudah swasembada. Sekitar 80 sampai 90 persen kebutuhan sudah bisa dipenuhi dari Kaltim sendiri,” ujarnya.

Pemerintah juga mulai mendorong masyarakat mempertimbangkan produk daging beku sebagai alternatif konsumsi di tengah kenaikan harga daging segar menjelang Iduladha.

“Produk daging beku sebenarnya juga bisa menjadi alternatif bagi masyarakat,” kata Heni.

Di tengah kenaikan sejumlah harga pangan, Pemprov Kaltim mengklaim kondisi inflasi daerah masih terkendali. Berdasarkan data awal Mei 2026, angka inflasi disebut mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya.

“Inflasi awal Mei ini turun dibanding inflasi awal April. Artinya upaya pengendalian harga dan ketersediaan pasokan berjalan sesuai harapan,” ungkapnya.

Related posts

Pemprov Tawarkan Ganti Rugi Lahan Transmigrasi,Uang atau Lahan?

Aminah

Sidak RSUD AWS, Gubernur Kaltim Prihatin Pasien Overkapasitas

Ellysa Fitri

Anggaran BPJS Masih Ada, Dinkes Kaltim Pastikan Warga Tetap Dilayani Meski Ada Penataan Peserta

Aminah