Ekonomi

Ekonomi Oranye Sekadar Wacana? APPSI Bongkar Lemahnya Integrasi Daerah

Teks: Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Rudy Mas'ud saat menyampaikan sambutannya pada kegiatan FGD APPSI 2026. (Ist/Humas Pemprov Kaltim)

Ambon, Natmed.id – Focus Group Discussion (FGD) APPSI 2026 di Ambon tak sekadar forum koordinasi antarprovinsi, tetapi menjadi ruang kritik atas rapuhnya integrasi sektor ekonomi daerah yang selama ini berjalan parsial. Gubernur Kalimantan Timur sekaligus Ketua Umum APPSI, Rudy Mas’ud, menegaskan bahwa konsep “orange economy” seharusnya bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan mendesak.

“Tantangan global semakin kompleks, tapi hal itu tidak menghentikan langkah kita untuk melahirkan terobosan, ide, dan gagasan, salah satunya melalui ekonomi oranye,” ujar Rudy.

Selama ini, sektor pertanian, maritim, dan ekonomi kreatif berjalan sendiri-sendiri tanpa orkestrasi kebijakan yang kuat. Akibatnya, potensi besar daerah tidak mampu menghasilkan dampak ekonomi maksimal bagi masyarakat lokal.

Rudy menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen pada triwulan pertama 2026 belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi daerah secara merata.

“APPSI memandang perlu adanya kolaborasi strategis dalam mengoptimalkan potensi daerah guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Menurutnya, integrasi lintas sektor harus diwujudkan secara konkret, tidak berhenti pada konsep. Tanpa itu, daerah akan terus terjebak dalam pola lama yang minim nilai tambah.

“Melalui forum ini, kita ingin merumuskan rekomendasi kebijakan strategis bagi pengembangan ekonomi regional. Kita ingin memastikan integrasi sektor pertanian, maritim, dan ekonomi kreatif tidak hanya sebatas konsep, melainkan pilar nyata yang menyejahterakan rakyat di daerah,” lanjut Rudy.

Forum ini juga memotret berbagai persoalan mendasar, mulai dari lemahnya koordinasi antarsektor di daerah hingga kebijakan pusat yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan lokal. Banyak program masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga sulit menciptakan ekosistem ekonomi yang utuh.

Jika integrasi ini gagal diwujudkan, daerah akan terus berada dalam pola lama. Kaya sumber daya, tetapi miskin nilai tambah. Sebaliknya, jika berhasil, ekonomi oranye berpotensi menjadi fondasi baru pertumbuhan ekonomi regional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Related posts

Kue Jadul Lebaran Pasuruan Bertahan di Tengah Tren Modern

Sahal

OJK Jamin Jasa Keuangan Nasional Aman

Muhammad

Teguh Santosa Nilai Erick akan Membawa MES Lebih Baik 

Aminah