Samarinda, Natmed.id – Dinas Kesehatan Kaltim memastikan kesiapan petugas kesehatan haji musim haji 2026 telah dilakukan sejak awal tahun.
Persiapan mencakup pelatihan teknis, pelatihan terintegrasi, hingga penyiapan tenaga medis dan tenaga pendukung yang akan mendampingi jemaah.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Jaya Mualimin mengatakan seluruh tahapan persiapan sudah berjalan dan petugas yang dibutuhkan dinyatakan siap bertugas.
“Untuk haji sudah kita persiapkan sejak awal. Pelatihannya juga sudah kita laksanakan, baik pelatihan teknis maupun pelatihan terintegrasi. Seluruhnya sudah siap,” katanya kepada awak media, Senin 27 April 2026.
Ia menjelaskan pendampingan kesehatan jemaah tidak hanya berfokus pada penanganan medis, tetapi juga kondisi lingkungan dan pencegahan gangguan kesehatan selama ibadah haji berlangsung.
Untuk tahun ini, kuota petugas kesehatan haji dari wilayah yang meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara berjumlah 18 orang. Jumlah pendaftar jauh lebih banyak dibanding kuota yang tersedia.
“Tahun ini kuotanya 18 orang yang mendaftar kalau tidak salah sampai 90 orang, kemudian dilakukan seleksi,” ucapnya.
Seleksi dilakukan secara berlapis, mulai dari administrasi, tes berbasis komputer atau CAT, wawancara, hingga verifikasi dokumen. Penentuan akhir petugas terpilih dilakukan langsung oleh kementerian melalui sistem nasional.
“Yang memilih dari kementerian, bukan kita. Karena pendaftarannya juga melalui akun masing-masing di aplikasi,” jelas Jaya.
Petugas yang lolos akan mendampingi jemaah sejak keberangkatan dari embarkasi hingga kembali ke tanah air. Setelah itu, jemaah masih dipantau kesehatannya oleh dinas kesehatan daerah masing-masing selama 14 hari hingga satu bulan.
“Petugas kloter mendampingi dari embarkasi sampai pulang. Setelah itu jemaah diserahkan kembali ke dinas kesehatan untuk pemantauan lanjutan,” katanya.
Tahun ini pemerintah juga menerapkan syarat baru, yakni petugas yang pernah bertugas pada musim haji sebelumnya tidak lagi diprioritaskan agar kesempatan terbuka bagi tenaga kesehatan lain.
“Yang sudah pernah berangkat menjadi salah satu syarat untuk tidak berangkat lagi. Jadi memberi kesempatan kepada yang lain,” ujarnya.
Selain itu, calon petugas juga wajib memenuhi standar kesehatan, termasuk indeks massa tubuh ideal dan bebas penyakit yang dapat mengganggu aktivitas lapangan.
“Kalau terlalu obesitas atau punya penyakit yang mengganggu aktivitas, itu menjadi bagian dari syarat administrasi,” kata Jaya.
