Kalimantan Timur

Bukan Sekadar Gizi: BKKBN Kaltim Soroti Peran Ayah dalam Penanganan Stunting

Teks: Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur, Sunarto, saat menyampaikan sambutannya. (Natmed.id/Ratu)

Samarinda, Natmed.id – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 di Samarinda tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga panggung evaluasi serius terhadap akar persoalan stunting. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur Sunarto menegaskan bahwa persoalan stunting tidak cukup diselesaikan hanya dengan intervensi gizi.

Dalam sambutannya pada Kick Off Pelayanan KB di Gedung PKK Kota Samarinda, Senin, 8 Juni 2026, Sunarto menyebut bahwa faktor non-nutrisi justru menjadi tantangan besar yang kerap terabaikan.

“Stunting itu bukan hanya soal makanan. Ada faktor non-nutrisi yang justru krusial, seperti rumah tidak layak huni, sanitasi buruk, hingga akses air bersih,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah pusat telah menyiapkan berbagai intervensi, mulai dari program Genting (Gerakan Orang Tua Cegah Stunting) hingga dukungan lintas kementerian. Namun, efektivitas program tersebut sangat bergantung pada kemampuan daerah dalam mengintegrasikan penanganan lintas sektor.

Salah satu yang disorot adalah kondisi rumah tidak layak huni (RTLH). Program nasional pembangunan jutaan rumah serta dukungan anggaran daerah dinilai sudah tersedia, namun masih menyisakan pekerjaan rumah di tingkat lokal.

“Yang tersisa ini yang harus kita sisir bersama. Kuncinya kolaborasi. Kalau ini bisa diorkestrasi, bukan hal sulit menuntaskan stunting,” tegasnya.

Tak hanya itu, Sunarto juga mengangkat isu yang jarang disentuh dalam diskursus stunting: peran ayah dalam keluarga. Melalui Program Gatel (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), ia menyoroti fenomena “fatherless” yang semakin mengemuka di kalangan remaja.

Menurutnya, banyak anak tumbuh tanpa kehadiran emosional ayah, meskipun secara fisik masih berada dalam satu rumah. Waktu interaksi yang minim dan komunikasi yang dangkal membuat anak kehilangan arah dalam menentukan masa depan.

“Dalam 24 jam, berapa lama ayah benar-benar hadir untuk anaknya? Bahkan setengah jam pun sering tidak,” katanya.

Kondisi ini, lanjutnya, berdampak pada perilaku remaja yang mencari pelarian di luar rumah, mulai dari nongkrong hingga aktivitas yang kurang produktif.

Selain Genting dan Gatel, BKKBN juga mendorong program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) sebagai solusi pengasuhan terstandar. Program ini tidak hanya memastikan tumbuh kembang anak berjalan optimal, tetapi juga membuka ruang bagi perempuan untuk tetap produktif secara ekonomi.

“Pengasuhan itu harus berbasis kebutuhan anak, bukan sekadar kebiasaan turun-temurun,” jelasnya.

Sunarto menegaskan, jika Indonesia ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, maka intervensi harus dilakukan secara menyeluruh mulai sekarang. Dengan sisa waktu kurang dari dua dekade, ia mengingatkan bahwa upaya mencetak generasi unggul tidak bisa ditunda.

“Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” pungkasnya.

Melalui momentum Harganas 2026, pesan yang mengemuka jelas: perang melawan stunting tidak cukup dengan makanan bergizi, tetapi juga membutuhkan kehadiran keluarga yang utuh, lingkungan yang layak, serta kolaborasi nyata lintas sektor.

Related posts

Partisipasi Pemilih Meningkat, Akmal Malik Puji Peran Media Dalam Demokrasi

Aditya_

3 M Cara Menekan Penyebaran Covid-19

natmed

Nekat Gunakan Mobil Dinas untuk Mudik, ASN Terancam Sanksi Berat

Aminah