Samarinda, Natmed.id – Penurunan angka stunting di Kota Samarinda mulai menunjukkan tren positif. Namun, perbedaan metode pengukuran data dan target jangka panjang nasional masih menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah daerah.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Samarinda Deasy Evriyani
menyebutkan angka stunting pada 2024 berada di kisaran 20,4 persen dan turun menjadi 20,3 persen pada 2025.
“Memang kalau dilihat dari data itu, penurunannya tipis. Tapi ada dua sumber data yang digunakan,” ujarnya, Selasa 28 April 2026.
Selama ini terdapat perbedaan antara data daerah melalui sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) dan data survei dari pemerintah pusat. Namun, survei nasional tidak lagi dilakukan secara rutin karena keterbatasan anggaran.
“Data dari pusat itu sekarang tidak lagi melakukan survei karena keterbatasan anggaran. Jadi kita menggunakan data EPPGM dari kementerian,” katanya.
Berdasarkan data e-PPGBM tersebut, angka stunting Samarinda justru menunjukkan penurunan lebih signifikan hingga 17,13 persen, melampaui target nasional tahun 2024 yang dipatok di angka 18 persen.
“Alhamdulillah, kalau pakai data e-PPGBM kita sudah di 17,13 persen. Artinya sudah di bawah target pusat,” ujarnya.
Meski demikian, capaian tersebut belum menjadi akhir. Pemerintah masih menghadapi target jangka menengah dan panjang yang lebih ambisius.
“Masih ada PR besar. Target 2029 itu 14,14 persen, dan 2045 harus turun sampai 5 persen,” katanya.
Untuk tahun berjalan, target penurunan stunting di Samarinda ditetapkan di angka 20 persen. Dengan capaian saat ini, pemerintah mengklaim target tersebut telah terlampaui.
“Target tahun ini 20 persen, jadi sebenarnya kita sudah tercapai,” ujarnya.
Namun, capaian ini tetap menyisakan catatan kritis. Ketergantungan pada satu sumber data berpotensi memunculkan bias dalam membaca kondisi riil di lapangan, terutama tanpa pembanding dari survei independen berskala nasional.
Di sisi lain, penurunan angka juga perlu dilihat dari kualitas intervensi yang dilakukan, mulai dari pemenuhan gizi, sanitasi, hingga pendampingan keluarga berisiko stunting.
