Kalimantan Timur

IKP Kaltim Berpotensi Menurun Dampak Aksi 21 April

Teks: Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal, Rabu,22/4/26 (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id — Insiden hambatan akses wartawan dalam peliputan aksi unjuk rasa 21 April 2026 di depan Kantor Gubernur Kaltim berpotensi berdampak pada capaian Indeks Kebebasan Pers (IKP) daerah.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim Muhammad Faisal menyebut posisi IKP Kaltim selama lima tahun terakhir tergolong sangat baik dan konsisten berada di papan atas nasional.

“Indeks Kebebasan Pers kita lima tahun terakhir cukup bagus. Pernah peringkat satu dua kali, peringkat tiga dua kali, dan peringkat dua sekali. Kita cukup stabil di posisi tiga besar,” ujarnya, Rabu 22 April 2026.

Faisal tidak menampik bahwa kejadian di lapangan dapat menjadi catatan dalam penilaian IKP ke depan. Namun, ia menegaskan kekhawatiran tersebut masih dalam batas wajar.

“Ya pastilah ada kekhawatiran. Tapi bukan khawatir yang parah sekali, stuasinya kan memang seperti itu,” katanya.

Ia mengajak semua pihak, baik pemerintah maupun media, untuk melakukan introspeksi bersama agar kejadian serupa tidak terulang.

“Mari kita introspeksi bersama. Kami di dalam juga akan introspeksi. Kalau ada kejadian seperti ini, persoalan media, harus kita bicarakan,” tegasnya.

Faisal juga menekankan pentingnya komunikasi aktif antara media dan pihak pengamanan di lapangan. Menurutnya, aparat seringkali tidak mengenal individu yang berada di lokasi, sehingga pendekatan persuasif diperlukan.

“Petugas di lapangan tidak tahu siapa-siapa. Semua dianggap berpotensi. Jadi perlu koordinasi. Kalau ada masalah, telepon saja. Jangan sampai bentur-benturan,” katanya.

Pendekatan saling memahami peran masing-masing menjadi kunci agar tugas jurnalistik dan pengamanan dapat berjalan beriringan.

Insiden ini menjadi refleksi penting bagi pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan pers dan kebutuhan pengamanan di lapangan.

Di satu sisi, capaian IKP Kaltim yang selama ini tinggi menjadi kebanggaan, namun di sisi lain, kejadian seperti ini berpotensi menjadi catatan evaluasi.

Faisal menegaskan, seluruh pihak memiliki tanggung jawab masing-masing yang harus dijalankan secara profesional.

“Semua punya tugas, keamanan punya tugas, media punya tugas, kami juga punya tugas. Tinggal bagaimana kita sama-sama dewasa menyikapi,” pungkasnya.

Related posts

Pererat Ikatan, MSI Group Gelar Nobar Film ‘Agak Laen’

ericka

Ular atau Ulat, Dua Metafora Pascapuasa Ramadan Versi Andi Harun

Irawati

Desa Loa Ulung Kembangkan BUMDes ke Sektor Lebih Produktif

Aminah