Kalimantan Timur

Degradasi Budaya Jadi Sorotan, Ridwan Tassa Janjikan Sekretariat Modern KKSS Kaltim

Teks: Ketua Harian BPW KKSS Kaltim Ridwan Tassa Saat Memberikan Keterangan Pers, Sabtu,11/4/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Jelang Musyawarah Wilayah (Muswil) IX Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kaltim, isu pembaruan organisasi mulai mengemuka.

Ketua Harian KKSS Kaltim Ridwan Tassa menilai tantangan terbesar organisasi saat ini bukan hanya soal pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjaga identitas budaya generasi muda perantau yang mulai tergerus zaman.

Banyak generasi penerus warga Sulawesi Selatan di Kaltim lahir dan tumbuh di daerah rantau. Kondisi itu membuat mereka tidak mengalami secara langsung proses pewarisan budaya dari tanah leluhur.

“Salah satu yang memang harus kita pikirkan bersama adalah persoalan budaya-budaya, nilai-nilai budaya kita yang sudah tergerus dan sudah mengalami degradasi saat ini,” ujarnya, Sabtu 11 April 2026.

Ia menjelaskan, mayoritas kader muda KKSS saat ini lahir di Kaltim, sehingga kedekatan mereka dengan budaya Sulawesi Selatan lebih bersifat emosional ketimbang pengalaman langsung.

“Tokoh-tokoh kita yang sekarang berada di KKSS ini pada umumnya adalah orang-orang yang lahir di Kaltim. Sehingga tentu tidak langsung menerima budaya-budaya dari Sulawesi Selatan,” katanya.

Karena itu, organisasi perlu menghadirkan program kerja yang fokus pada pembinaan generasi muda agar nilai budaya tetap hidup di tengah masyarakat perantauan.

“Perlu ada langkah-langkah yang dicampur dengan program kerja untuk pembinaan generasi muda agar nilai-nilai budaya itu bisa kita lestarikan walaupun kita jauh dari daerah,” tegasnya.

Ridwan juga mengingatkan bahwa identitas kedaerahan tidak boleh mengaburkan realitas kewargaan. Menurutnya, warga KKSS tetap merupakan bagian utuh dari masyarakat Kaltim.

“Kita harus memahami benar bahwa kita ini bukan penduduk Sulawesi Selatan. Kita adalah penduduk Kaltim yang kebetulan saja punya hubungan emosional dengan Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Selain isu budaya, Ridwan menilai KKSS perlu bertransformasi menjadi organisasi modern yang memiliki sistem kerja jelas dan tertata. Salah satu kebutuhan mendesak yang ia soroti adalah keberadaan sekretariat permanen.

“Saya kira sekretariat adalah kebutuhan pokok. Kalau kita mau jadikan KKSS ini sebagai organisasi modern, itu harus ada sekretariat,” katanya.

Ia menyebut sekretariat bukan sekadar kantor simbolik, melainkan pusat administrasi dan pengelolaan data anggota berbasis teknologi. Sistem database sangat penting agar organisasi mengetahui potensi sumber daya manusia yang dimiliki.

“Di sekretariat nanti akan kita kelola dengan menggunakan teknologi sehingga bisa berfungsi maksimal, baik dalam pengambilan database maupun registrasi anggota,” jelasnya.

Ridwan mengatakan data anggota akan menjadi instrumen strategis, terutama untuk membantu warga KKSS yang memiliki kompetensi tetapi belum memperoleh pekerjaan.

“Kita bisa mengetahui berapa banyak anggota kita yang punya human resources bagus tetapi belum memiliki pekerjaan. Nah, itu juga kita harus bantu,” ucapnya.

Tak hanya itu, pembentukan yayasan sebagai instrumen ekonomi organisasi. Ia menilai yayasan dibutuhkan agar KKSS memiliki sumber pembiayaan mandiri dan tidak selalu bergantung pada sumbangan spontan.

“Untuk yayasan saya kira itu kebutuhan. Karena kita bisa melakukan upaya-upaya membiayai kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan tentu dengan menggunakan yayasan,” katanya.

Jika dipercaya memimpin, Ridwan menyebut pembentukan yayasan akan menjadi langkah awal yang langsung diwujudkan. Yayasan itu nantinya bergerak secara profesional dan terpisah dari struktur pengurus harian KKSS.

“Kalau Allah menghendaki kita diberi amanah, insyaallah kita akan langsung membuat yayasan. Pengurus yayasan tentu di luar dari pengurus KKSS,” ujarnya.

Terkait bidang usaha, yayasan bisa masuk ke sektor yang selama ini banyak digeluti warga Sulawesi Selatan di Kaltim, seperti perdagangan, transportasi, hingga UMKM.

“Yang pertama yayasan ini mungkin bergerak di bidang transportasi, bisa di bidang UMKM dan sebagainya. Sesuai dengan yang banyak digeluti warga kita,” katanya.

KKSS memiliki jejaring ekonomi kuat, namun belum terorganisasi secara maksimal dalam bentuk lembaga produktif yang memberi manfaat luas bagi anggota.

“Yang paling banyak memang di perdagangan. Saya kira ini perlu, harus segera kita membuat yayasan-yayasan itu sehingga ini bisa menjadi kesempatan untuk membantu warga kita,” pungkasnya.

Related posts

Tantangan Bisnis Media Siber di Era AI

Muhammad

Bahaya Berita Blunder, CEO MSI Group Ingatkan Wartawan Lebih Berhati-Hati

Irawati

Bantuan Pemprov Dampak Covid-19, Sebelum Idul Fitri Sudah Tersalurkan

natmed