Kutai Kartanegara, Natmed.Id – Perayaan Iduladha tahun ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi Wahid, pemilik Warung Puncak di Desa Perangat Selatan, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Untuk pertama kalinya, ia menerima pembagian daging kurban dari lingkungan tempat tinggalnya di RT 9.
“Alhamdulillah tahun ini dapat dari RT 9. Kalau sebelumnya biasanya dari tempat lain,” ujar Wahid saat ditemui, Kamis, 28 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa pembagian daging kurban tersebut bukan berasal dari iuran seluruh warga RT, melainkan hasil patungan beberapa orang yang berinisiatif untuk melaksanakan kurban.
“Bukan semua warga, hanya beberapa orang saja, sekitar tujuh orang yang patungan untuk satu sapi,” jelasnya.
Menurut Wahid, pelaksanaan kurban di RT 9 sempat tidak dilakukan selama beberapa tahun terakhir. Karena itu, kegiatan tahun ini menjadi momen yang cukup spesial bagi warga.
“Kalau tidak salah sudah tiga tahun tidak ada penyembelihan di sini, jadi ini memang inisiatif beberapa orang,” tambahnya.
Daging yang diterima Wahid terdiri dari campuran daging, jeroan, dan tulang. Ia memperkirakan totalnya hampir mencapai satu kilogram.
“Dagingnya sekitar 4 ons, sisanya jeroan dan balungan (tulangan). Tapi kalau ditotal mungkin mendekati satu kilo,” ungkapnya.
Tak butuh waktu lama, daging tersebut langsung diolah menjadi hidangan untuk keluarga. Wahid memilih memasaknya menjadi soto daging pada hari yang sama.
“Sore langsung dimasak, malamnya kami makan bersama keluarga,” katanya.
Ia juga memastikan bahwa kualitas daging yang diterima dalam kondisi baik dan segar.
“Bagus, fresh,” ujarnya singkat.
Momen Iduladha bagi Wahid tidak hanya soal menerima daging kurban, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan dan rasa syukur. Ia menilai kegiatan kurban mampu mempererat hubungan antarwarga.
Selain itu, Wahid juga berharap ke depan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin di lingkungannya.
“Semoga ke depan bisa terus ada, dan lebih banyak lagi yang ikut berkurban,” harapnya.
Di tengah kesibukannya mengelola warung sederhana, Wahid tetap menyempatkan diri menikmati momen kebersamaan tersebut. Baginya, Iduladha bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang berbagi dan memperkuat hubungan sosial.
“Yang penting bisa berkumpul dan makan bersama keluarga, itu sudah cukup,” tutupnya.
