Ekonomi

Harga Kantong Plastik Naik Drastis, Pelaku Usaha Mengeluh Penjualan Anjlok

Teks: Beragam jenis Plastik Kemasan Dijual Dengan Harga Baru Setelah Mengalami Kenaikan Sejak Pertengahan Ramadan. Jumat,10/4/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Lonjakan harga kantong plastik dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan pelaku usaha di Samarinda. Kenaikan yang mencapai puluhan persen membuat biaya operasional meningkat, sementara daya beli masyarakat justru melemah.

Kenaikan harga terjadi sejak pertengahan Ramadan dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda stabil. Dampaknya, transaksi penjualan ikut menurun, meski kebutuhan terhadap plastik belum sepenuhnya bisa ditinggalkan.

Harvey Gufron (44) pemilik Toko Abadi Plastik di Jalan AM Sangaji mengungkapkan bahwa hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan harga signifikan.

“Paling tinggi sampai 70 persen, yang paling rendah sekitar 30 persen,” ujarnya saat ditemui, Jumat 10 April 2026.

Kenaikan paling tajam terjadi pada plastik bening atau yang biasa digunakan untuk kemasan makanan. Harga per karung yang sebelumnya berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp900 ribu, kini melonjak hingga Rp1,4 juta sampai Rp1,5 juta.

Untuk penjualan eceran, kenaikan juga cukup terasa. Plastik ukuran kecil yang sebelumnya dijual sekitar Rp6.000 kini mencapai Rp10.000.

Tak hanya plastik bening, jenis plastik berwarna dan produk turunan seperti gelas plastik (cup) juga mengalami kenaikan. Meski tidak setinggi plastik transparan, lonjakan harga tetap berdampak pada biaya usaha.

“Yang berwarna juga naik, sekitar 40–50 persen. Cup juga sama, dari 9.000 sekarang jadi 13.000,” katanya.

Harvey menduga kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga bahan baku plastik yang masih bergantung pada impor, khususnya dari minyak mentah.

“Informasi yang kami terima karena bahan bakunya itu dari minyak mentah, dan kita masih impor dari luar. Jadi kalau harga di luar naik, otomatis di sini juga ikut naik,” tuturnya.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan daya beli konsumen. Ia mengaku volume penjualan di tokonya mengalami penurunan cukup signifikan sejak harga mulai naik.

“Daya beli jelas menurun. Kalau dibandingkan sebelumnya, mungkin turun sekitar 30 sampai 50 persen. Orang tetap beli, tapi jumlahnya dikurangi, enggak seperti dulu,” katanya.

Meski demikian, ia menilai masyarakat belum memiliki alternatif pengganti plastik, sehingga permintaan tetap ada meski jumlah pembelian menurun.

“Kalau dibilang ada pengalihan sih enggak juga. Mereka tetap pakai plastik, karena memang masih dibutuhkan. Cuma ya itu, pembeliannya jadi lebih sedikit, disesuaikan dengan kondisi,” ujarnya

Seluruh pasokan plastik yang dijual di tokonya berasal dari Pulau Jawa, yang juga mengalami kenaikan harga secara merata. Hal ini membuat pedagang di daerah tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti harga pasar.

Sebagai pelaku usaha yang telah menjalankan bisnis sejak 2004, Harvey menyebut kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Selain harus menyesuaikan harga jual, ia juga dihadapkan pada penurunan omzet akibat melemahnya daya beli.

“Kita di posisi serba sulit, harga dari sana sudah naik, kita mau enggak mau ikut naikkan. Tapi di sisi lain pembeli juga keberatan, jadi ya harus pintar-pintar menyesuaikan saja,” tutupnya.

Related posts

Isran: Kalau Ada Investasi Masuk, Saya Bahagia

Febiana

Pedagang Tradisional Protes, Wawali Samarinda Minta Minimarket Hormati Aturan Jarak

Aminah

Hasil Survei Bank Muamalat Indonesia Peroleh Hasil Tertinggi Sektor Pelayanan

natmed