Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda Andi Harun menyampaikan peringatan keras terkait rapuhnya kedaulatan pangan di Kalimantan Timur (Kaltim).
Ia menyoroti bahwa ketergantungan wilayah ini terhadap pasokan pangan dari luar daerah telah mencapai titik yang mengkhawatirkan dan berisiko memicu krisis besar jika tidak segera diantisipasi.
Andi Harun membeberkan data bahwa mayoritas kebutuhan pokok masyarakat di seluruh kabupaten/kota di Kaltim masih disuplai oleh provinsi lain. Angka ketergantungan ini dinilai sangat berisiko bagi stabilitas daerah.
“Data kita se-provinsi ini, ketergantungan pangan kita pada luar daerah di atas 70 persen, bahkan 80 persen lebih. Kita telur masih dari luar daerah, beras, bahkan sayur-mayur, lebih dari itu bahkan buah-buahan. Cari sekeliling Samarinda, buah-buahan itu berasal dari mana? Hampir 100 persen berasal dari luar daerah,” kritik Andi Harun di depan awak media pada Rabu, 1 April 2026.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa posisi Kaltim saat ini sangat disetir oleh kondisi alam di daerah asal pengirim pangan, seperti Sulawesi dan Jawa Timur.
Jika terjadi anomali cuaca yang menyebabkan gagal panen di daerah-daerah penghasil tersebut, maka Kaltim akan menjadi pihak yang paling terdampak.
“Tidak selamanya daerah pengirim atau daerah asal pangan itu terus-menerus sukses pangannya. Apalagi dalam keadaan anomali cuaca yang seperti ini. Ada saatnya di mana daerah-daerah penghasil itu mengalami gagal panen, misalnya. Boro-boro mau jual ke daerah lain, untuk mereka saja belum tentu cukup,” tambahnya.
Wali Kota Andi Harun juga mengakui bahwa produksi beras lokal di Kaltim saat ini masih sangat minim dan belum mampu menjadi penyangga yang kuat.
“Produksi beras kita untuk di Kaltim itu masih sangat jauh dari mencukupi kebutuhan. Bahkan mungkin jika dikumpulkan semua produksi pangan kita dari sawah-sawah yang ada di Kaltim, mungkin untuk memberi makan satu kabupaten atau satu kota saja tidak cukup,” ungkap Andi Harun.
Selain itu, ia mendesak agar pemerintah dan pemangku kepentingan di Kaltim mulai mengalihkan fokus dari sektor ekstraktif seperti tambang dan migas ke sektor pertanian yang berkelanjutan.
Dia juga menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak ada artinya jika ketahanan pangan dasar tidak terpenuhi.
“Kita tidak mungkin terus-menerus mengidolakan batu bara. Kita tidak terus-menerus mengidolakan migas. Ini yang penting, perut rakyat, ketahanan pangan,” imbuhnya.
Sebagai langkah strategis ke depan, Wali Kota Andi Harun mengusulkan adanya kolaborasi masif antara 10 bupati dan wali kota di Kaltim bersama pemerintah provinsi untuk melakukan transformasi pertanian secara besar-besaran.
“Perlu ada program yang sifatnya tersinergi antarkabupaten/kota. Misalnya kita punya program pencetakan sawah, kemudian memakai teknologi pertanian. Saatnya kita mulai memikirkan bagaimana membentuk secara konkret upaya ketahanan pangan kita,” katanya.
Andi Harun mengajak masyarakat untuk bersyukur atas bentang lahan Kaltim yang luas dan mendesak agar potensi tersebut segera dimanfaatkan sebelum terlambat.
Ia berkaca pada keberhasilan daerah lain, seperti Papua, yang mulai berhasil mencetak sawah secara mandiri untuk menekan harga dan ketergantungan pangan.
