Ekonomi

Bahan Baku Meroket, Laba Lumpia Radja Samarinda Tergerus Penurunan Omzet

Teks: Owner Lumpia Radja, Muhammad Idris Rabu,18/3/26. (Natmed.id/Abdi)

Samarinda, Natmed.id – Tantangan yang dihadapi pelaku UMKM di bulan Ramadan 2026 tidak hanya datang dari lesunya daya beli masyarakat, tetapi juga dari melambungnya biaya produksi yang tidak terkendali.

Idris, pemilik usaha Lumpia Radja, membeberkan bahwa kenaikan harga bahan baku tahun ini menjadi beban operasional terberat sepanjang sejarah ia berjualan di Jalan Siradj Salman.

Idris mengungkapkan anomali pasar yang ia rasakan. Meski pemerintah telah menertibkan pasar dari pungutan liar, kenaikan harga komponen produksi justru menjadi musuh baru bagi margin keuntungan.

“Satu kali jualan begini tuh selama satu bulan itu Rp10 juta. Kemarin tembus Rp16 juta beli bahan itu, harganya sudah naik banget, jauh,” keluh Idris saat diwawancara Rabu, 18 Maret 2026.

Kenaikan biaya modal ini berbanding terbalik dengan realita pendapatan yang diterima. Idris mengenang masa keemasan beberapa tahun lalu, di mana dukungan dari relasi pejabat daerah seperti Wakil Gubernur serta pesanan masif dari instansi dan organisasi mampu membawa usahanya meraup omzet hingga Rp200 juta dalam satu bulan.

Namun, kejayaan itu kini tampak kontras dengan situasi lapangan saat ini. Idris mengalkulasi bahwa dalam kondisi normal dengan stok 2.500 biji lumpia, ia seharusnya bisa mengantongi pendapatan kotor sekitar Rp2,5 juta per hari jika seluruh barang habis terjual.

Namun, dengan daya beli yang sedang tiarap, pencapaian angka tersebut menjadi tantangan besar, terutama karena ia harus menanggung biaya tenaga kerja yang tidak sedikit untuk membantu proses produksi.

Di tengah himpitan biaya, Idris tetap teguh pada prinsip kualitas. Ia menolak untuk beralih ke bahan-bahan instan atau kulit lumpia pabrikan demi menekan biaya produksi. Baginya, kekuatan Lumpia Radja terletak pada proses pembuatan yang dilakukan secara mandiri dari nol (homemade).

“Lumpia ini kan bukan seperti makanan biasa, saya bikin kulit sendiri, bikin sayurnya sendiri. Kalau kulit saya enggak beli, saya bikin sendiri. Itulah kenapa beda,” tegasnya.

Sebagai seorang pengusaha, Idris menganalisis bahwa fenomena penurunan omzet ini bukan semata-mata karena masyarakat kehilangan uang, melainkan karena perubahan perilaku belanja yang menjadi lebih konservatif atau safety spending. Masyarakat cenderung menahan pengeluaran untuk memastikan ketahanan finansial jangka panjang.

“Masyarakat sekarang itu bukannya tidak punya uang, tapi safety. Uang yang biasanya dibelanjakan untuk satu minggu, bagaimana caranya bisa untuk dua minggu. Karena income yang masuk tidak sebanding dengan yang keluar,” pungkasnya.

Idris pun kini harus memutar otak lebih keras agar hobi tahunannya ini tetap bisa bertahan di tengah badai ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Related posts

Ekonomi Indonesia Tumbuh di Atas 5 Persen di Tengah Tekanan Global

Aminah

Harga Cabai dan Bawang di Samarinda Meroket

Sukri

Kue Jadul Lebaran Pasuruan Bertahan di Tengah Tren Modern

Sahal