Ekonomi

Mendekatkan Kesegaran Muara Muntai ke Meja Makan, Kisah Askan dan Inovasi Ikan Beku

Teks: Pemilik Usaha Ikan Vakum Frozen, Askan Saat Diwawancara Pada 11/3/26. (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Hiruk pikuk acara Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di halaman Kantor Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim menjadi panggung bagi para pelaku UMKM lokal untuk unjuk gigi.

Teks: Ikan vakum frozen yang dijual oleh Askan (Natmed.id/Sukri)

Di antara deretan tenda beras dan minyak goreng, satu tenant tampak mencolok dengan produk protein hewani khas Kalimantan Timur, ikan sungai kemasan vakum.

Adalah Askan, sosok di balik usaha ikan vakum ini, yang mencoba memutus rantai distribusi panjang demi menghadirkan ikan sungai berkualitas dengan harga yang tetap membumi bagi warga Kota Tepian.

Keunggulan utama produk milik Askan terletak pada orisinalitas bahan bakunya. Ikan-ikan yang ia jual, seperti ikan gabus (haruan), lais, hingga jelawat, didatangkan langsung dari para nelayan di kawasan Muara Muntai, Kutai Kartanegara.

“Konsep kami adalah kesegaran. Begitu ikan didapat dari nelayan di hulu, tim kami di sana langsung melakukan proses pembersihan atau penyiangan. Ikan dicuci bersih, dibuang bagian yang tidak diperlukan, lalu segera dimasukkan ke dalam kemasan plastik vakum dan dibekukan (frozen),” terang Askan saat diwawancarai Rabu, 11 Maret 2026.

Metode pengemasan kedap udara (vakum) ini bukan tanpa alasan. Menurut Askan, teknik ini mampu menjaga tekstur dan rasa ikan tetap seperti baru ditangkap meskipun disimpan dalam jangka waktu lama.

“Di dalam freezer, ikan ini bisa bertahan hingga dua bulan. Jadi, ibu-ibu tidak perlu repot menyiangi ikan lagi, tinggal cairkan dan langsung masak,” tambahnya.

Salah satu daya tarik utama tenant milik Askan di acara GPM adalah harganya yang sangat kompetitif. Di tengah fluktuasi harga pangan, ia berhasil menawarkan solusi protein murah.

Ikan lais dan haruan dijual dengan kisaran harga Rp15.000 hingga Rp30.000 per bungkus, dengan berat kemasan rata-rata setiap bungkus memiliki berat bersih sekitar 4,5 ons (450 gram).

Jika dikonversi ke harga per kilogram, produk Askan jauh lebih hemat dibandingkan harga ikan segar di pasar tradisional Samarinda yang terkadang melambung tinggi akibat faktor cuaca atau kelangkaan stok.

“Karena saya mengambil langsung dari sumbernya di Muara Muntai tanpa melalui banyak perantara, saya bisa menekan harga. Di acara Pangan Murah ini, misi kami memang membantu masyarakat mendapatkan gizi baik dengan harga yang terjangkau,” tegasnya.

Meski saat ini masih dikelola sebagai usaha sampingan yang dijalankan secara mandiri, Askan sudah mulai memanfaatkan kekuatan media sosial.

Ia aktif menggunakan Facebook Marketplace sebagai kanal penjualan utama di wilayah Samarinda dan sekitarnya. Namun, ia mengakui adanya kendala teknis dalam memperluas jangkauan pasar untuk produk ikan segar beku ini

“Untuk pengiriman ke luar daerah yang memakan waktu lebih dari satu hari, kami masih terkendala pada ketahanan suhu produk. Ikan beku ini harus tetap dingin agar kualitasnya terjaga. Berbeda dengan produk ikan asin kami yang sudah bisa dikirim hingga ke luar pulau karena lebih awet,” jelas Askan.

Keikutsertaan Askan dalam Gerakan Pangan Murah diharapkan menjadi stimulus bagi pelaku usaha lain untuk lebih kreatif mengolah potensi kekayaan alam Kalimantan Timur.

Dengan adanya inovasi pengemasan yang higienis dan praktis, ikan sungai yang dulunya dianggap komoditas tradisional kini naik kelas menjadi produk modern yang diminati masyarakat perkotaan.

Bagi warga Samarinda yang ingin mencicipi gurihnya ikan sungai khas Muara Muntai, kehadiran tenant Askan di berbagai gelaran bazar pemerintah menjadi momen yang paling dinanti.

Related posts

Kemitraan Ekonomi Baru Indonesia–Inggris Sasar Energi Bersih hingga Rantai Pasok

Aminah

Eddy Ganefo: Majukan Perekonomian, Kadin Harus Bersinergi Dengan Pemerintah Daerah

natmed

Penuhi Pasokan Daging, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim Dukung Program Koperasi BSJ

Febiana