Samarinda, Natmed.id – Pemerintah Kota Samarinda mengintensifkan pelaksanaan Posyandu Serentak sebagai strategi memperluas cakupan layanan kesehatan dasar sekaligus mengejar partisipasi warga yang belum terjangkau dalam kegiatan rutin bulanan.

Program ini menjadi bagian dari Gerakan Ayoo Serentak Pencegahan Stunting (GASPeS) dalam rangka Hari Posyandu Nasional 2026.
Pelaksanaan salah satunya berlangsung di Posyandu Sehati, Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir, Kamis 30 April 2026, dengan menyasar bayi, balita, ibu hamil, hingga lansia.
Camat Samarinda Ilir La Uje menjelaskan bahwa posyandu serentak digelar di luar jadwal rutin untuk menjangkau warga yang sebelumnya tidak hadir.
“Ini bukan jadwal biasa. Posyandu serentak ini untuk menutup yang tidak hadir pada jadwal sebelumnya, sehingga seluruh sasaran tetap terpantau,” ujarnya.
Pendekatan yang digunakan tidak lagi hanya menunggu kehadiran masyarakat di lokasi, tetapi juga dilakukan secara aktif melalui kunjungan langsung ke rumah.
“Kalau ada balita yang tidak datang, kader langsung melakukan kunjungan ke rumah. Pelayanannya sama seperti di posyandu,” katanya.
Langkah jemput bola ini dinilai penting untuk memastikan data kesehatan tetap terbarui, sekaligus mencegah terlewatnya pemantauan tumbuh kembang anak yang berisiko stunting.
Di lokasi kegiatan, tercatat sekitar 50 balita menjadi sasaran pelayanan. Namun, berdasarkan data sebelumnya, tidak seluruhnya hadir dalam jadwal rutin bulanan. Posyandu serentak dimanfaatkan untuk mengejar angka kehadiran tersebut.
“Dari sekitar 50 balita yang terdata, memang tidak semua hadir di jadwal biasa. Hari ini kita maksimalkan kehadirannya,” jelasnya.
Selain balita, kegiatan ini juga menyasar kelompok lanjut usia. Di Posyandu Sehati, tercatat sekitar 90 lansia masuk dalam daftar pelayanan kesehatan.
“Ini juga menjadi indikator bahwa usia harapan hidup masyarakat cukup tinggi. Lansia yang terdata ada sekitar 90 orang,” ujarnya.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi layanan kesehatan dasar seperti pengecekan tekanan darah, gula darah, serta pemeriksaan rutin lainnya untuk deteksi dini penyakit.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, pemerintah kecamatan memperkuat koordinasi hingga tingkat paling bawah. Lurah dan RT dilibatkan aktif dalam menyampaikan jadwal posyandu kepada warga melalui berbagai kanal komunikasi.
“Kami minta lurah mengetahui jadwal posyandu, lalu disampaikan ke RT, diteruskan ke warga melalui grup, bahkan lewat masjid atau langgar,” katanya.
Di Kelurahan Sidodamai sendiri terdapat 32 RT yang menjadi basis penyebaran informasi sekaligus penggerak partisipasi warga.
Dari sisi fasilitas, pemerintah kecamatan menilai sarana penunjang kegiatan posyandu relatif memadai. Namun, peningkatan kualitas alat kesehatan masih menjadi perhatian.
“Fasilitas sudah cukup, tinggal peningkatan kualitas alat. Pengadaan bisa melalui program Pro Bebaya, tapi tetap harus koordinasi dengan Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Meski pelaksanaan posyandu serentak dinilai efektif meningkatkan partisipasi dalam jangka pendek, tantangan tetap berada pada konsistensi kehadiran masyarakat dalam kegiatan rutin bulanan.
Pemerintah menilai, keberhasilan pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada kegiatan serentak, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan layanan kesehatan secara berkelanjutan.
“Posyandu itu rutin setiap bulan. Jadi bukan hanya saat serentak saja, tapi bagaimana masyarakat punya kesadaran untuk datang secara rutin,” tutupnya.
