Samarinda, Natmed.id – Menghadapi dinamika ekonomi global yang kian tidak menentu, Kalimantan Timur dituntut untuk segera memperkuat pilar-pilar domestiknya.
Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kaltim, Sigit Wibowo, menegaskan bahwa kemandirian pangan dan transisi energi bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak bagi stabilitas wilayah.
Sigit Wibowo menyoroti tantangan besar yang dihadapi Kaltim terkait pemenuhan kebutuhan pokok. Hingga saat ini, sebagian besar pasokan pangan masih didatangkan dari luar daerah, sebuah kondisi yang dinilai rawan terhadap inflasi dan gangguan distribusi.
“Sesuai dengan visi pemerintah pusat tentang kedaulatan pangan, kita ingin mengurangi ketergantungan impor beras. Kita harus bisa swasembada pangan lokal karena potensi lahan kita sangat besar, terutama di Penajam Paser Utara (PPU) yang selama ini menjadi lumbung padi terbesar di Kaltim,” ujar Sigit saat diwawancara awak media pada Sabtu, 25 April 2026.
Lebih lanjut, ia mendorong adanya perubahan paradigma di masyarakat, khususnya bagi para alumni HMI dan generasi muda, agar tidak memandang sebelah mata sektor pertanian.
“Kita dorong lahirnya petani berdasi. Ini adalah konsep petani modern yang memiliki modal, orientasi usaha yang jelas, dan mampu mengelola pertanian dengan teknologi. Jika sektor pangan kita kuat dan mandiri, kita tidak akan goyah oleh gejolak harga pasar dunia,” tegasnya.
Selain kedaulatan pangan, Sigit juga memaparkan visi mengenai ketahanan energi. Kondisi geopolitik dunia yang memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memberikan dampak langsung pada daya beli masyarakat dan beban fiskal daerah.
“Dampak kenaikan harga BBM dan kondisi perang dunia saat ini sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi kita. Solusi jangka panjangnya adalah kita harus mulai serius menggarap dan beralih ke energi terbarukan,” jelas Sigit.
Ia mengungkapkan bahwa Kalimantan memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang luar biasa, salah satunya melalui pemanfaatan aliran sungai untuk pembangkit listrik.
“Ada rencana strategis seperti pembangunan PLTA Sungai Kayan di Kalimantan Utara dengan penggunaan turbin energi air yang masif. Ini adalah langkah nyata menuju era energi hijau yang berkelanjutan bagi seluruh daratan Kalimantan ke depan,” tambahnya.
Melalui integrasi antara modernisasi pertanian dan pengembangan energi hijau, diharapkan Kalimantan Timur dapat bertransformasi dari provinsi yang bergantung pada ekstraksi sumber daya alam tak terbarukan menjadi wilayah yang memiliki ketahanan ekonomi mandiri.
Sigit berharap organisasi seperti KAHMI dapat menjadi motor penggerak intelektual untuk memberikan rekomendasi serta aksi nyata dalam mendukung kedaulatan pangan dan energi tersebut demi kesejahteraan masyarakat luas.
