Samarinda, Natmed.id – Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 harus menjadi titik balik bagi sistem pendidikan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, untuk beralih dari sekadar perluasan akses menuju transformasi kualitas yang menyeluruh.
Hal tersebut disampaikan akademisi sekaligus Wakil Rektor bidang kerja sama IKIP PGRI Kaltim Dr Abdul Rozak Fahrudin yang menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak lagi sebatas membangun sekolah, tetapi memastikan proses pembelajaran benar-benar relevan dan berdampak.
“Transformasi pendidikan bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Kita tidak cukup hanya mengejar angka partisipasi, tetapi harus memastikan kualitas dan relevansi lulusan,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Ia merujuk pada data Rapor Pendidikan Nasional 2025 yang menunjukkan capaian literasi siswa baru berada di angka 65,4 persen dan numerasi 58,7 persen. Angka tersebut, menurutnya, menggambarkan masih adanya persoalan mendasar dalam kualitas pembelajaran.
Tak hanya itu, kesenjangan mutu pendidikan antara wilayah perkotaan, pinggiran, hingga daerah tertinggal (3T) juga dinilai masih menjadi persoalan serius yang belum teratasi secara merata.
“Ketimpangan kualitas pendidikan ini nyata. Ada sekolah dengan standar internasional, tetapi di sisi lain masih ada sekolah yang minim fasilitas dasar seperti sanitasi dan ruang belajar layak,” katanya.
Perubahan Paradigma Pendidikan
Rozak menekankan, transformasi harus dimulai dari perubahan paradigma pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.
“Kurikulum Merdeka sudah membuka ruang itu. Siswa harus diberi kesempatan untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan bereksplorasi. Pendidikan harus memanusiakan manusia, bukan menyeragamkan,” tegasnya.
Selain itu, peran kepala sekolah juga dinilai krusial sebagai pemimpin perubahan di tingkat satuan pendidikan.
“Kepala sekolah tidak cukup menjadi administrator. Mereka harus menjadi pemimpin pembelajaran yang aktif membina guru dan membangun budaya belajar di sekolah,” ujarnya.
Kaltim dan Tantangan IKN
Dalam konteks Kalimantan Timur, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) disebut sebagai tantangan sekaligus peluang besar. Namun, ia mengingatkan bahwa kesiapan sumber daya manusia lokal harus menjadi prioritas agar tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
“Kaltim harus menyiapkan SDM unggul. Pendidikan SMA dan SMK harus terhubung dengan kebutuhan industri. Jangan sampai lulusan tidak terserap karena tidak relevan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam ekosistem pendidikan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
“Pendidikan bukan hanya urusan pemerintah. Semua pihak harus duduk bersama untuk memastikan kualitas SDM kita siap menghadapi perubahan,” ujarnya.
Digitalisasi dan Peran Guru
Di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi pendidikan dinilai harus dimaknai lebih dari sekadar penyediaan perangkat.
“Digitalisasi bukan hanya bagi-bagi laptop. Guru harus dibekali kemampuan agar teknologi menjadi alat pembelajaran yang efektif,” kata Rozak.
Ia juga menyinggung fenomena penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh siswa, yang menurutnya harus direspons dengan pendekatan yang adaptif, bukan restriktif.
“Teknologi adalah akselerator. Guru harus mampu mengarahkan agar teknologi digunakan secara produktif,” tambahnya.
Pembiayaan dan Kesejahteraan Guru
Aspek pembiayaan juga menjadi perhatian penting dalam transformasi pendidikan. Ia menilai anggaran pendidikan harus benar-benar dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas.
“Standar pembiayaan per siswa harus dipenuhi agar pendidikan layak bisa terwujud. Selain itu, peran CSR perusahaan di daerah juga perlu diarahkan untuk pengembangan SDM,” ujarnya.
Di sisi lain, peningkatan kualitas pendidikan juga tidak bisa dilepaskan dari kesejahteraan dan perlindungan profesi guru.
“Guru adalah kunci. Mereka harus mendapatkan gaji layak, perlindungan, dan ruang untuk berkembang agar bisa menjadi agen perubahan,” katanya.
Meski demikian, Rozak mengakui transformasi pendidikan tidak mudah. Sejumlah tantangan seperti resistensi perubahan, kesenjangan infrastruktur digital, hingga beban administrasi guru masih menjadi hambatan.
Namun, ia menegaskan bahwa Hari Pendidikan Nasional harus menjadi momentum kolektif untuk bergerak bersama.
“Transformasi pendidikan adalah prasyarat menuju Indonesia Emas 2045. Semua pihak harus berperan—guru terus belajar, pemerintah memfasilitasi, dan masyarakat mendukung,” pungkasnya.
