Pendidikan

Lampaui Batas Kemampuan, Kamilah Taklukkan 30 Juz di SMA IT Granada

Teks: Kamilah Zaimatun Nisa Wisudawan SMA IT Granada Samarinda Berhasil Menuntaskan Hafalan 30 juz Al-Qur’an. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Rasa tidak percaya diri sempat menggelayuti benak Kamilah Zaimatun Nisa saat pertama kali menginjakkan kaki di SMA IT Granada Samarinda. Datang dengan target yang dianggapnya realistis menghafal 25 juz, gadis kelahiran Sangatta ini justru membuat kejutan.

Di tengah prosesi wisuda yang khidmat di Aula SD dan SMP Cordova bersama 110 wisudawan lainnya, Rabu 11 Maret 2026. Kamilah resmi menyandang gelar Hafizah 30 juz dengan predikat jayyid jiddan, membuktikan bahwa tekad mampu mengalahkan keraguan diri.

“Jujur, saya tidak menyangka sama sekali. Awal masuk SMA Granada, target saya hanya 20 sampai 25 juz,” ungkapnya.

Namun, panggilan hati untuk menghafalkan setiap firman Allah ternyata membawanya melampaui batas yang ia tetapkan sendiri. Semangat untuk mengkhatamkan seluruh ayat suci menjadi motor penggerak yang tak kenal lelah.

Dedikasi Kamilah terhadap Al-Qur’an bukanlah proses instan. Ia telah memulai langkah kecilnya sejak kelas 2 SD di SDIT Darussalam, Sangatta. Lulus dari sana, ia membawa bekal 4 juz.

Hasratnya untuk mendalami Al-Qur’an semakin kuat saat ia memilih melanjutkan pendidikan ke Rumah Tahfidz Qur’an Ar Rahmah Balikpapan selama masa SMP.

“Pas lulus SMP baru dapat 12 juz. Jadi benar-benar genap 30 juz itu di sini,” jelasnya.

Perjalanan di SMA pun tidak langsung melompat ke juz 13. Sesuai kurikulum, Kamilah harus mengulang pengujian dari juz 30 untuk memastikan kekokohan hafalannya sebelum berlanjut ke juz-juz berikutnya.

Menghafal 30 juz tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kamilah mengakui ada titik-titik terberat di mana ujian datang beruntun. Mulai dari dinamika pertemanan hingga perasaan jenuh yang melanda.

“Allah pasti menguji kita. Terkadang merasa dijauhi teman, atau masalah-masalah lain yang datang berentet,” kenangnya.

Di saat semangatnya nyaris tumbang, Kamilah selalu membasuh hatinya dengan niat awal. Ia menyadari bahwa ujian adalah pertanda bahwa ia sudah dekat dengan gerbang keberhasilan.

“Saya ingat lagi tujuan saya hafal Quran untuk apa. Kenapa Allah kasih ujian, agar kita sabar. Saya tanya ke diri sendiri, masih mau lanjut tidak setelah dapat musibah ini dan saya memilih untuk terus,” tegasnya.

Sosok sang kakak yang juga seorang hafidzah 30 juz menjadi cermin bagi Kamilah. Meski ia sempat merasa rendah diri dan menganggap kakaknya lebih cerdas, hal itu justru menjadi pelecut semangat. Ia ingin membuktikan bahwa dengan tekad, ia pun bisa berdiri di titik yang sama.

Kini, setelah mahkota hafalan ia raih, mimpi Kamilah terbang lebih jauh. Madinah menjadi impiannya untuk melanjutkan studi. Berkas-berkas kini tengah disiapkan dengan bimbingan dari para ustaz dan ustazah di sekolahnya.

Sebagai pesan untuk adik-adik tingkatnya, Kamilah menekankan pentingnya meluruskan niat. “Niatkan karena ingin mencari rida Allah, memberikan hujah bagi orang tua di akhirat kelak, dan agar kehidupan kita di dunia maupun akhirat menjadi berkah,” pesannya.

Related posts

Kepala Sekolah SMAGA, Tanggapi Isu Penghapusan UN

natmed

Disdikdaya Probolinggo Percepat Digitalisasi SMP Lewat Bimtek IFP di Tongas

Sahal

Saparudin : LKS PJOK Tak Masalah

natmed