Samarinda, Natmed.id – Tren mengerjakan tugas kuliah di ruang publik atau coworking space kini merambah ke perpustakaan modern. Salah satu yang menjadi primadona bagi kalangan akademisi di Kota Tepian adalah Perpustakaan Bank Indonesia (PusBI) Kalimantan Timur.
Kehadiran fasilitas literasi milik bank sentral ini mulai menggeser dominasi perpustakaan kampus sebagai tempat favorit mahasiswa untuk membedah buku maupun menyelesaikan tugas akademik.

Aditya Diva Madya, mahasiswa semester 4 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman (Unmul), menjadi salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang memilih rehat sejenak dari lingkungan kampus.
Ditemui saat sedang sibuk mengerjakan tugas bersama rekannya, Aditya mengungkapkan bahwa rasa jenuh menjadi pemantik utamanya mencari suasana baru.
“Sebenarnya alasannya itu pengen nyoba-nyoba. Karena di Unmul sendiri ada perpustakaannya juga, cuman karena saya cukup sering ke sana, jadinya sudah bosan lah. Akhirnya memutuskan untuk mencoba perpustakaan lain yang ada di Samarinda,” ungkapnya saat diwawancarai, Jumat, 20 Februari 2026.
Popularitas PusBI Kaltim di kalangan Gen-Z ternyata tidak lepas dari pengaruh konten kreatif di platform digital. Aditya mengaku bahwa keputusannya untuk berkunjung hari ini merupakan hasil dari rasa penasaran setelah melihat berbagai ulasan positif di media sosial yang menyebutkan bahwa PusBI adalah salah satu tempat paling ideal untuk produktivitas mahasiswa.
“Saya sempat lihat di sosial media ada perpustakaan yang recommended lah buat didatangi oleh mahasiswa. Apalagi kalau buat nugas atau baca-baca buku, karena tempatnya juga PW (posisi enak) apa segala macam,” tambahnya.
Setibanya di dalam gedung, ekspektasi Aditya terjawab. Ia memberikan apresiasi khusus pada pengaturan suhu ruangan dan suasana yang dianggapnya sangat mendukung konsentrasi.
Baginya, fasilitas internal PusBI Kaltim sudah memenuhi standar kebutuhan mahasiswa masa kini yang menginginkan tempat yang tenang namun tetap modern.
“Kondisi di dalam itu bener-bener nyaman, enak juga karena dingin. Terus bisa dibilang cozy lah. Enak banget buat tugas ataupun buat kumpul-kumpul. Fasilitasnya sudah bagus banget, termasuk WiFi-nya juga kencang,” jelasnya mendalam.
Kecepatan internet memang menjadi poin krusial mengingat banyak tugas mahasiswa saat ini yang bergantung pada akses jurnal daring dan aplikasi kolaborasi.
Namun, kenyamanan di dalam gedung ternyata sedikit mendapat kritik oleh pengalaman pertamanya saat hendak masuk ke area perpustakaan.
Sebagai pengunjung baru, Aditya merasa alur dari area parkir menuju perpustakaan cukup membingungkan dan cenderung repetitif secara administratif.
“Jujur untuk akses masuknya cukup sulit, apalagi saya first time di sini. Awalnya disuruh parkir di samping gedung, setelah itu disuruh lewat pintu utama dulu karena ada pengecekan tas, pas menuju ternyata bisa langsung lewat parkiran tanpa lewat pintu utama,” keluh Aditya.
Ia menyoroti bahwa posisi perpustakaan yang berada agak ke dalam dari jalan utama sebenarnya tidak masalah, namun prosedur transisi dari area parkir menuju perpustakaan perlu disinkronkan agar tidak membuat pengunjung merasa harus memutar tanpa petunjuk yang jelas.
Meski sempat terhambat di alur masuk, Aditya tetap memberikan penilaian tinggi bagi PusBI Kaltim sebagai pusat literasi. Ia memberikan skor 8 dari 10 untuk keseluruhan pengalaman kunjungannya hari ini.
Dua poin yang hilang sepenuhnya ia atribusikan pada masalah aksesibilitas dan alur masuk bagi pengunjung baru.
Di akhir wawancara, ia menitipkan harapan agar pihak pengelola lebih memperhatikan sistem navigasi di luar gedung.
“Harapannya mungkin tolong akses masuknya diperjelas saja. Sayang kalau perpustakaan sebagus ini aksesnya kurang diketahui atau menyulitkan orang, karena sisa fasilitas lainnya sudah juara banget,” pungkasnya.
Dengan adanya masukan dari para pengunjung, PusBI Kaltim diharapkan dapat terus berbenah sehingga tidak hanya unggul dalam fasilitas internal, tetapi juga ramah bagi pengunjung sejak langkah kaki pertama memasuki kawasan BI.
