Samarinda

Ritual Dupa, Simbol Sedekah Alam dan Sumpah “Makan Sumpah” bagi Pemimpin Zalim

Teks: Salah Satu Dupa Yang Ditancapkan Di Lokasi Demo Pada Selasa,21/4/26 (Natmed.id/Dewi)

Samarinda, Natmed.id – Sebuah pemandangan tak biasa terlihat di lokasi aksi massa yang dihadiri oleh Ketua Korwil Gepak Samarinda Seberang Teddy Adeni dan Panglima Kijang Tarmiji.

Sejumlah titik di area Demo 21 April 2026 dipasangi dupa yang menyala, menciptakan suasana sakral di tengah keriuhan aspirasi masyarakat.

Teks: Ketua Korwil GEPAK Samarinda Seberang Teddy Adeni Saat Diwawancarai Pada Selasa,21/4/26 (Natmed.id/Dewi)

Ketua Korwil Gerakan Pemuda Asli Kalimantan (Gepak) Samarinda Seberang Teddy Adeni menjelaskan bahwa penggunaan dupa tersebut bukanlah sekadar hiasan, melainkan bagian dari ritual “Sedekah Alam” yang memiliki makna filosofis mendalam bagi masyarakat setempat.

“Dupa itu bentuk ritual. Karena kita ini kan harus ada yang namanya sedekah alam. Titik itu merupakan empat mata angin: Utara, Selatan, Barat, dan Timur,” ujar Teddy saat diwawancara pada Selasa, 21 April 2026.

Ia menambahkan bahwa ritual ini bertujuan untuk memohon restu dan dukungan dari kekuatan yang ada di alam, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, agar ikut berjuang bersama rakyat.

“Jadi kita ini punya artinya yang nampak dan tidak nampak itu nanti mudah-mudahan ikut berjuang juga dengan kita. Nah, itu mungkin dari saya,” tambahnya.

Teks: Panglima Kijang Tarmiji Saat Diwawancarai Pada Sesi Yang Sama Pada Selasa,21/4/26 (Natmed.id/Dewi)

Senada dengan Teddy, Panglima Kijang Tarmiji memberikan penegasan yang lebih keras terkait makna spiritual di balik ritual tersebut.

Menurutnya, bagi masyarakat Kalimantan, khususnya tanah Kutai, ritual ini merupakan bentuk pengingat akan adanya hukum sebab akibat atau karma.

“Kalau orang kami Kalimantan, itu namanya sebagai sumpah kami. Sumpah tanah Kutai atau tanah Kalimantan. Selagi orang itu zalim dengan masyarakat Kalimantan atau Kaltim, dia akan mendapatkan karma durhaka,” tegas Tarmiji pada sesi wawancara yang sama.

Ia menjelaskan bahwa mereka memanggil para leluhur bukan untuk mencelakai secara sembarangan, melainkan sebagai saksi atas kebijakan para pemimpin.

Jika pemimpin tersebut berbuat baik, maka kebaikan pula yang akan diterima. Namun, jika sebaliknya, maka sumpah tersebut akan berlaku.

“Seandainya memang beliau itu orang baik, insyaallah baik. Tetapi bila beliau itu zalim dengan orang Kaltim, dia akan mendapatkan bala dan sumpah dari kami tanah Kutai,” ucapnya.

Ia juga memperingatkan bahwa konsekuensi dari “makan sumpah” ini tidak main-main dan bisa berdampak luas.

“Makan sumpah! Jadi itulah kami memanggil beliau untuk memberikan itu. Tapi memang sumpah itu tidak langsung ‘blek-blek’ (seketika), tapi dengan berjalannya waktu dia akan mendapatkan karma sekeluargaan. Siapapun yang zalim,” lanjut Tarmiji.

pihak Gepak dan Panglima Kijang menegaskan komitmen mereka untuk terus mengawal kebijakan di Kalimantan Timur. Mereka bahkan mengubah jargon yang sebelumnya populer menjadi lebih agresif sebagai bentuk pengawalan ketat.

“Untuk penutup, jadi kalau kemarin Rudi Mas’ud mengatakan apa namanya Gratispol, sekarang kita ubah jadi Gratispol versus Gaspol!” pungkas mereka disambut seruan semangat dari anggota lainnya.

Ritual dupa ini menjadi simbol bahwa perjuangan masyarakat Kaltim tidak hanya bergerak di ranah fisik dan politik, tetapi juga melibatkan akar budaya dan spiritualitas yang kuat sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap tanah leluhur.

Related posts

Cara Mencegah Covid-19 Tetap Menjaga Prokes

Aditya Lesmana

Perceraian Banyak Disebabkan Faktor Ekonomi Dan Perkawinan Usia Dini

Phandu

Bakti Sosial Abituren Akabri 94, Tingkatkan Kesehatan Masyarakat di Wilayah Korem 091/ASN

Intan