Ekonomi

Dari Kayu Kalimantan, Menggeris Hadirkan Jam Tangan Kelas Internasional

Teks: Produk Menggeris Dari Jam Tangan hingga Soft Case HP (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Brand jam tangan dan aksesori kayu Menggeris membuktikan bahwa material lokal Kalimantan mampu diolah menjadi produk berkelas internasional. Berbasis kayu endemik Borneo dan dikerjakan secara presisi. Saat ini, Menggeris kini menembus pasar ekspor sekaligus menempatkan diri sebagai produk premium di segmen menengah atas.

Teks : Founder Menggeris Lendy Zelviean Adhari (kiri) dan Tim Memperlihatkan Produk Menggaris (Natmed.id/Aminah)

Menggeris didirikan oleh Iendy Zelviean Adhari, putra daerah Kalimantan Timur, yang mengembangkan produk berbahan kayu Menggeris atau Banggeris (Koompassia excelsa). Kayu ini dikenal keras, tahan terhadap iklim tropis, dan memiliki nilai historis serta filosofis bagi masyarakat Kalimantan.

“Nama Menggeris kami ambil langsung dari nama kayunya. Ini identitas lokal Kalimantan, bahkan di Samarinda ada Jalan Banggris,” ujar Iendy, Minggu 1 Februari 2026.

Selain kayu Menggeris, Menggeris juga memanfaatkan kayu ulin dan kayu hitam Kalimantan (Diospyros borneensis). Seluruh bahan baku telah dilengkapi sertifikat legalitas kayu (SPLK/SVLK), yang menjadi syarat utama produk kayu untuk menembus pasar ekspor. Legalitas tersebut memastikan bahan baku berasal dari sumber sah dan berkelanjutan.

Produk Menggeris tidak terbatas pada jam tangan, tetapi juga mencakup kacamata kayu, strap, soft case, dan aksesori pendukung lainnya. Dari sisi teknologi, jam tangan Menggeris menggunakan mesin Swiss Ronda dan Seiko, termasuk varian automatic tanpa baterai. Pilihan mesin ini bukan sekadar diferensiasi produk, tetapi juga strategi kepatuhan regulasi.

“Untuk beberapa negara Eropa, jam tangan berbaterai tidak bisa diekspor tanpa lisensi khusus. Karena itu kami fokus pada mesin automatic,” kata Iendy.

Hingga kini, produk Menggeris telah dipasarkan ke California (Amerika Serikat), Dubai (Uni Emirat Arab), Singapura, dan Malaysia. Harga jual untuk pasar ekspor mencapai sekitar 200 dolar AS per unit, sementara harga domestik berada di kisaran Rp800 ribu hingga Rp8 juta, tergantung jenis mesin dan tingkat kerumitan desain.

Seri automatic menjadi produk paling diminati, terutama untuk segmen kolektor dan kalangan pejabat yang menjadikannya cendera mata resmi.

Meski telah menembus pasar global, kapasitas produksi Menggeris masih terbatas. Proses produksi dikerjakan oleh enam pengrajin dengan alat dan teknik yang sama, sebagian berlokasi di Samarinda dan sebagian di wilayah lain. Kayu keras Kalimantan yang menjadi keunggulan produk justru menjadi tantangan.

“Mengolah kayu Kalimantan jauh lebih sulit dibanding kayu dari Jawa. Ini bukan produksi massal, tapi kerja presisi dan seni,” ujar Iendy.

Dengan karakter produksi terbatas dan nilai seni tinggi, Menggeris memposisikan jam tangannya sebagai produk koleksi, bukan sekadar barang konsumsi.

Tantangan ke depan adalah menjaga keberlanjutan bahan baku, meningkatkan kapasitas pengrajin, serta memperluas pasar tanpa menghilangkan identitas lokal yang menjadi kekuatan utama brand ini.

Related posts

Migas Center Pertama di Kalsul Diresmikan di Balikpapan

Aminah

PHSS dan PEP Latih 22 Pemuda Lokal Jadi Operator K3 Migas Bersertifikat

Aminah

Penghasilan Menurun, Kafe Ruang Hati Berharap Kebijakan Pemerintah

Febiana