Samarinda

Nestapa di Balik Sepatu Sempit: Kisah Pilu Mandala yang Wafat dalam Balutan Kemiskinan

Teks: Ibunda dari Alhmarhum Mandala, Ratnasari saat diwawancarai pada Kamis,30/4/26. (Natmed.id/Dewi)

Samarinda, Natmed.id – Kepergian Mandala Rizky Syahputra menyisakan duka mendalam sekaligus tamparan keras bagi nurani publik. Di balik wajah polosnya, tersimpan perjuangan melawan sakit yang dipicu oleh hal yang tampak sepele namun mematikan, yaitu sepasang sepatu sekolah yang sudah tak muat lagi.

Ibu kandung Mandala, Ratnasari menceritakan kronologi awal penderitaan sang putra yang bermula saat Mandala menjalani masa magang sekolah.

“Magang itu dalam dua hari dia mengeluh itu kakinya sudah sakit. Sakit, tapi dia biarkan sampai setengah bulan baru dia bilang kalau itu sepatunya sudah kesempitan, kekecilan,” ungkap sang Ibu saat diwawancarai awak media pada Kamis, 30 April 2026.

Demi tetap bersekolah dan tidak merepotkan orang tuanya, Mandala bahkan sempat meminta solusi sederhana agar ia tetap bisa berjalan.

“Dia paksakan untuk berusaha kuat. Mak, kayaknya ini butuh ganjalan aja yang empuk. Tolong carikan gabusnya buah untuk ganjal kaki Mandala supaya tidak sakit, dia bilang seperti itu,” kenang sang Ibu menirukan ucapan anaknya.

Kondisi Mandala terus menurun hingga puncaknya pada hari Rabu, 22 April 2026 saat kakinya mulai membengkak hebat. Namun, di tengah rasa sakitnya, Mandala justru menunjukkan nafsu makan yang luar biasa dan ketegaran yang tak disangka pada Kamis malam.

“Malamnya itu makannya lebih kuat, Pak. Bilangnya dia merasa lapar, dia makan itu kayak model tiga orang yang makan sampai saya itu kaget, Nak, kamu kelaparan? Dia bilang, ini Mandala lapar banget,” tuturnya.

Sebelum memejamkan mata untuk selamanya, Mandala menitipkan pesan terakhir yang begitu dewasa bagi anak seusianya kepada sang Ibu.

“Mak, kalau bisa tidur ya Mak, soalnya besok supaya Mamak itu tidak kesiangan. Mamak bisa cari rezeki lagi. Terus, kalau bisa Mamak jangan menyerah ya. Mandala itu laki-laki, tapi Mandala itu lemah. Kalau bisa Mamak itu kuat ya, jaga kakak, adik semua kalau nanti Mandala tinggalkan,” ujar sang Ibu mengutip pesan terakhir sang putra.

Mandala ditemukan sudah tidak bernyawa oleh ibunya pada pukul 01.00 Jumat dini hari, 24 April 2026, saat sang ibu hendak beristirahat setelah selesai membuat adonan risoles untuk dagangannya.

Kepedihan sang Ibu kian memuncak saat ia mencoba mencari bantuan ke pihak rukun tetangga (RT) sesaat setelah Mandala meninggal dunia. Niat hati meminjam ambulans untuk mengantar jenazah sang anak, ia justru mendapatkan jawaban yang dingin.

“Saya datangi RT, saya ketok pintu, saya bilang anak saya mendadak meninggal. Saya bilang untuk menyewa (ambulans) kami tidak punya uang. Tapi apa bilang Pak RT? Maaf ya Bu, kalau untuk masalah ambulans, sebelumnya Ibu kan tahu semuanya apa-apa semua serba uang,” ungkap sang Ibu menirukan ucapan Ketua RT setempat.

Alasan penolakan tersebut diduga karena keluarga Mandala tidak terdaftar aktif dalam iuran rukun kematian warga.

“Katanya karena rukun kematian kan saya tidak ikut, jadi mereka itu ibaratnya RT tidak bisa mengadakan. Seperti itu jawabannya tadi kepada saya,” jelasnya.

Beruntung, di tengah penolakan lingkungan tempat tinggalnya, pihak sekolah Mandala bergerak cepat. Seorang guru bernama Rahmat menjadi malaikat bagi keluarga ini dengan mengurus seluruh keperluan jenazah.

“Untungnya saya ada gurunya anak saya itu, Pak Rahmat. Itu yang saya betul-betul alhamdulillah. Mulai dari ambulans, memandikan, sampai mengkafani hingga kuburannya pun itu alhamdulillah Pak Rahmat semua dari sekolah,” pungkasnya.

Kisah Mandala kini menjadi pengingat bagi banyak pihak bahwa kemiskinan ekstrem bukan sekadar angka statistik, melainkan nyawa yang bertaruh di balik kebutuhan-kebutuhan dasar yang tak terpenuhi.

Related posts

Disdamkar Makin Diminati, Bukan Cuma Kebakaran Tapi juga Nangkap Ular

Aminah

Satpol PP Samarinda Perketat Pengawasan Jam Operasional Warung Makan Selama Ramadan

Sukri

Suasana Pergantian Tahun di Taman Kota Samarinda

natmed