Samarinda, Natmed.id – Menteri Agama Republik Indonesia K.H. Nasaruddin Umar menetapkan Kaltim sebagai titik awal pelaksanaan International Grand Imam Conference (IGIC) 2026, forum internasional yang akan mempertemukan imam-imam masjid dari berbagai belahan dunia.
Agenda tersebut diumumkan dalam kegiatan Istighosah dan Tabligh Akbar bertema Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace di Islamic Center Samarinda, Sabtu 25 April 2026.
Penunjukan Kaltim sebagai lokasi pembuka forum global dinilai bukan keputusan simbolik semata. Pemerintah pusat menilai Kaltim memiliki modal sosial berupa kerukunan antarumat beragama, stabilitas daerah, serta posisi strategis sebagai kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Selamat kepada Kalimantan Timur. Ia menjadi entry point, titik masuk untuk kick-off konferensi imam internasional,” kata Nasaruddin Umar di hadapan ribuan jemaah.
Konferensi tersebut akan dihadiri tokoh-tokoh imam dari Timur Tengah, Eropa, Asia, Amerika Serikat hingga Amerika Latin. Mereka akan berkumpul di Indonesia untuk menyusun kesepahaman bersama mengenai peran pemuka agama dalam menciptakan perdamaian dunia.
“Nanti seluruh imam-imam penting, apakah itu di Timur Tengah, Eropa, Asia, Amerika Serikat sampai Amerika Latin akan berkumpul di Indonesia untuk membuat satu kesepakatan,” ujarnya.
Forum itu lahir dari kegelisahan atas banyaknya konflik internasional yang tak kunjung selesai meski jalur diplomasi negara terus dilakukan. Karena itu, pemerintah mulai mendorong pendekatan baru melalui diplomasi agama.
“Kita di Istiqlal sudah mulai memperkenalkan apa yang disebut diplomasi agama. Karena kalau diplomasi dilakukan dengan cara-cara formal, ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan dan ketegangan,” tegasnya.
Menurut Nasaruddin, tokoh agama memiliki akses langsung kepada nurani masyarakat. Karena itu, suara moral dari para imam, pastor, biksu, pendeta, maupun pemimpin agama lain dinilai dapat menjadi jalan alternatif meredam konflik global.
“Mari kita mencoba merujuk kepada hati nurani kita yang sangat dalam. Mari kita menghentikan ketegangan, menghentikan konflik, menghentikan peperangan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kemanusiaan seharusnya ditempatkan di atas sekat identitas.
“Humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu satu,” ucapnya.
Menag juga mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan bukan alasan untuk saling meniadakan. Ia menegaskan urusan keyakinan adalah relasi pribadi manusia dengan Tuhan.
“Kita hanya menyampaikan. Terserah mereka akan ikut petunjuk kita atau tidak. Urusan hati dan keyakinan orang adalah urusannya dia dengan Tuhan,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi pesan penting di tengah meningkatnya polarisasi identitas dan penggunaan isu agama dalam kontestasi politik di sejumlah daerah.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud yang turut hadir menyambut penunjukan Kaltim sebagai tuan rumah agenda internasional tersebut. Ia menyebut Kaltim merupakan miniatur Indonesia yang selama ini hidup dalam keberagaman.
“Kaltim sebagai miniatur Indonesia yang merupakan rumah besar, harus dijaga, dirawat, dan diperkuat bersama-sama,” katanya.
Rudy menilai peran imam masjid dan tokoh agama sangat strategis dalam menjaga persatuan masyarakat, terlebih Kaltim kini menjadi daerah strategis nasional seiring pembangunan IKN.
“Peran imam dan tokoh agama sangat strategis untuk menjaga persatuan umat di Indonesia,” tegasnya.
Ia juga mengklaim kehidupan keagamaan di Kaltim berjalan baik berkat kolaborasi pemerintah dan masyarakat lintas agama.
“Kami bersyukur selama ini kehidupan keagamaan Kaltim sangat baik berkat kerja kita semua,” ujarnya.
Rudy meminta dukungan doa dari alim ulama dan para imam agar Kalimantan Timur tetap diberi keberkahan, dijauhkan dari konflik, dan terus sejahtera.
“Atas nama pemerintah provinsi, kami memohon doa dari seluruh jemaah dan alim ulama agar Kaltim senantiasa diberikan keberkahan, dijauhkan dari konflik dan perpecahan,” katanya.
