Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda Andi Harun memaparkan evaluasi komprehensif terkait pemberlakuan sistem Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN)di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda.
Kebijakan ini terbukti tidak hanya menjadi solusi transisi kerja, tetapi juga memicu efisiensi besar-besaran pada penggunaan energi dan anggaran daerah yang selama ini menjadi beban rutin.
Berdasarkan data yang ditarik dari sistem pengawasan digital milik pemkot, Andi Harun mengungkapkan bahwa adopsi teknologi oleh para pegawai telah mencapai level yang sangat memuaskan dengan tingkat kepatuhan mencapai 94,5 persen.
Salah satu poin paling signifikan yang ditekankan Wali Kota Andi Harun adalah penghematan sumber daya alam dan penurunan polusi secara drastis di wilayah perkotaan Samarinda akibat berkurangnya mobilitas kendaraan pegawai.
“Hasil penghitungan kami menunjukkan dampak yang sangat positif. Implementasi WFH ini mampu melakukan penghematan BBM diperkirakan mencapai 1.900 liter per hari. Ini adalah angka yang besar jika kita melihatnya dalam konteks pengurangan emisi gas buang kendaraan di jalanan kota kita,” ujar Andi Harun saat diwawancara awak media pada Jumat, 24 April 2026.
Selain sektor transportasi, penghematan juga merambah ke biaya operasional gedung-gedung pemerintahan yang selama ini menelan biaya listrik dan air yang cukup tinggi.
“Dampaknya terasa nyata hingga ke operasional kantor-kantor dinas. Terjadi penurunan signifikan pada penggunaan listrik dan air di gedung pemerintahan karena aktivitas fisik dialihkan. Ini adalah bentuk efisiensi anggaran yang sangat kita butuhkan,” tambahnya.
Andi Harun juga menjawab kekhawatiran banyak pihak mengenai potensi penurunan produktivitas saat ASN bekerja dari rumah. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota memiliki instrumen pengawasan yang sangat ketat melalui platform digital yang transparan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir karena kinerjanya tetap terjaga dan sangat terukur. Kita memiliki dashboard monitoring yang mendeteksi aktivitas pegawai secara harian. Meskipun dari rumah, mereka tetap wajib melaporkan apa yang dikerjakan melalui laporan harian, mingguan, hingga bulanan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa sistem ini memungkinkan pimpinan untuk melihat secara real-time siapa saja yang berkontribusi aktif dan siapa yang tidak patuh terhadap kewajibannya.
“Angka kepatuhan 94,5 persen ini bukan sekadar klaim, tapi data dari sistem. Ini membuktikan bahwa ASN kita bisa bekerja secara modern, di mana hasil kerja jauh lebih penting daripada sekadar absen kehadiran fisik di kantor,” jelasnya.
Lebih jauh, Andi Harun memandang bahwa keberhasilan WFH ini merupakan bagian dari visi besar untuk menciptakan birokrasi yang lebih adaptif dan sadar lingkungan di Samarinda.
“Kita sedang membangun perilaku baru, sebuah budaya kerja masa depan yang lebih ramah lingkungan dan bertanggung jawab penuh kepada publik melalui data yang transparan,” pungkasnya.
Dengan hasil evaluasi yang positif ini, Pemerintah Kota Samarinda berencana untuk terus menyempurnakan integrasi teknologi dalam setiap aspek pelayanan publik guna memastikan efisiensi terus berlanjut.
