Samarinda

Truk Sampah Keropos Berseliweran, DLH Akui Keterbatasan Armada

Teks: Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar Saat Memberikan Keterangan Pers, Jumat,10/4/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Kondisi sejumlah truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda kembali menjadi sorotan. Sejumlah kendaraan terlihat memiliki bodi keropos dan bagian belakang berlubang saat beroperasi di jalan raya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda Muhammad Taufiq Fajar mengakui masih ada armada tua yang tetap dipakai karena keterbatasan jumlah kendaraan operasional.

“Memang ada beberapa truk yang kurang layak operasional. Seperti kendaraan tahun 2013, itu masih kami gunakan sampai sekarang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat 10 April 2026.

Kebutuhan layanan pengangkutan sampah di Samarinda cukup besar, sementara jumlah armada yang tersedia belum sebanding dengan titik pelayanan yang harus dijangkau setiap hari.

“Kami punya sekitar 71 sampai 73 kendaraan, sementara TPS ada 83 titik. Sopir juga sekitar 87 sampai 89 orang. Jadi ada kendaraan yang dipakai bergantian,” katanya.

Dalam kondisi ideal jumlah armada masih perlu ditambah agar pelayanan kebersihan bisa lebih maksimal dan kendaraan tua dapat segera dipensiunkan. Namun saat ini DLH harus tetap mengoperasikan armada lama demi menjaga ritase pengangkutan sampah tetap berjalan.

“Satu sisi kita harus tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jadi mau tidak mau kendaraan yang sebenarnya sudah waktunya pensiun masih kami gunakan,” jelasnya.

Terkait laporan warga mengenai truk sampah yang berlubang dan diduga menyebabkan sampah tercecer di jalan, DLH menyebut kendaraan seperti itu seharusnya segera masuk bengkel untuk diperbaiki.

“Kalau ada kondisi bolong seperti yang kemarin dilaporkan, seharusnya sopir langsung melapor ke admin kami supaya diperbaiki. Biasanya ditambal atau dilas agar tidak menyebabkan ceceran sampah di jalan,” tegasnya.

Ia menambahkan, lama perbaikan bergantung pada tingkat kerusakan dan antrean di bengkel.

“Kalau kerusakan ringan dan tidak ada antrean, beberapa hari biasanya selesai,” ucapnya.

Meski kebutuhan kendaraan dinilai mendesak, DLH mengungkapkan belum ada penambahan armada baru pada tahun ini karena penyesuaian anggaran.

“Untuk sementara belum tersedia penambahan unit baru. Tapi kami tetap perjuangkan agar tiap tahun ada pengadaan, jangan sampai terputus,” kata Taufiq.

Kekosongan pengadaan pada beberapa tahun sebelumnya berdampak pada menumpuknya kendaraan tua di lapangan. Selain rawan rusak, biaya perawatan armada lama juga cukup besar.

“Kendaraan tua itu biaya operasionalnya tinggi. Diperbaiki satu bagian bisa Rp20 juta sampai Rp30 juta, nanti rusak lagi bagian lain,” ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, DLH kini mengatur pembagian rute berdasarkan kondisi kendaraan. Armada tua ditempatkan di jalur yang lebih dekat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sementara kendaraan yang lebih baru digunakan untuk rute jauh atau medan berat.

“Kalau truk tua kami dekatkan ke TPA. Yang masih bagus kami arahkan ke jalur jauh atau tanjakan,” jelasnya.

DLH berharap pengadaan kendaraan bisa dilakukan rutin setiap tahun agar regenerasi armada berjalan dan pelayanan kebersihan kota tidak terganggu.

“Kalau bisa tiap tahun ada tambahan, meskipun tiga unit atau lima unit. Yang penting kendaraan tua bisa dipensiunkan bertahap,” pungkasnya.

Related posts

Pengelola Terminal Bayangan Samarinda Bantah Sebabkan Macet

Adinda Febrianti

Jenazah Warga Palaran Ditemukan Anaknya Setelah Dua Hari Tak Ada Kabar

Aminah

Oknum Honorer BPBD Balikpapan Diduga Terlibat Jaringan Pengedar Sumatera-Kalimantan

natmed