Pendidikan

Tanpa Ujian dan Nilai, Sekolah Lansia Santa Mathilda Samarinda Tawarkan Ruang Belajar Bahagia

Teks: Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri Bersama Pengurus dan Siswa Lansia Santa Matilda di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Mangkupalas Pada Jumat,10/4/26. (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Menjadi tua bukan berarti berhenti bertumbuh. Prinsip inilah yang melandasi peresmian Sekolah Lansia Santa Mathilda di Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus, Mangkupalas, Kota Samarinda.

Di tengah hiruk-pikuk kota, sekolah ini hadir bukan sebagai institusi yang menuntut nilai akademik, melainkan sebagai ruang penuh tawa dan kehangatan bagi para warga senior.

Kepala Sekolah Lansia Santa Mathilda RD Benediktus Indrapraptono menekankan bahwa usia senja adalah fase waktu emas yang harus dirayakan dengan kualitas hidup yang baik, bukan sekadar dihabiskan dengan berdiam diri di rumah.

“Kehadiran Bapak dan Ibu di sini membuktikan bahwa belajar tak pernah kenal usia. Sekolah lansia ini bukan sekadar tempat untuk duduk-duduk, tapi tempat kita belajar bersama, berolahraga, hingga belajar menggunakan ponsel agar tidak takut salah pencet,” ujar RD Benediktus pada penyampaiannya, Jumat, 10 April 2026.

Berbeda dari sekolah formal yang seringkali memicu stres akibat standar kelulusan, Sekolah Lansia Santa Mathilda menawarkan konsep pendidikan yang membebaskan.

Kurikulum yang disusun meliputi edukasi kesehatan, pemenuhan gizi, hingga literasi digital dan memori, namun semuanya disampaikan dengan cara yang ringan dan partisipatif.

RD Benediktus secara khusus menggarisbawahi bahwa aspek psikologis dan kebahagiaan batin adalah prioritas utama sekolah ini.

“Tak ada nilai, tak ada ujian, yang ada hanya ruang yang aman dan bahagia untuk bertanya serta bercerita. Kita ingin para mahasiswa datang ke sini dengan hati yang riang, tanpa beban pikiran tentang soal-soal ujian,” imbuhnya.

Partisipasi peserta dalam sekolah ini tergolong unik. Mulai dari warga berusia 79 tahun hingga tokoh berpendidikan tinggi seperti Doktor Pastor Yanuar Lakada bergabung dalam satu kelas yang sama.

Keberagaman latar belakang ini justru dipandang sebagai kekuatan utama sekolah untuk menjadi wadah berbagi pengalaman hidup.

Bagi RD Benediktus, para lansia adalah pilar kearifan bagi lingkungan sekitar mereka. Ia menitipkan pesan agar para peserta mampu memosisikan diri sebagai teladan di tengah masyarakat.

“Cerita dan doa Bapak Ibu para mahasiswa lansia adalah harta kekayaan kita bersama di dalam masyarakat. Melalui sekolah ini, kami berharap Bapak Ibu bisa menjadi berkat bagi orang lain melalui kisah hidup yang menjadi inspirasi bagi generasi muda,” paparnya.

Sekolah ini merupakan sekolah lansia keempat yang berdiri di Samarinda, sebuah bukti nyata kolaborasi yang apik antara komunitas gereja dengan dinas terkait di Pemerintah Kota Samarinda.

Pemerintah setempat berkomitmen mendukung penuh program ini agar para lansia di Samarinda tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga produktif secara mental.

RD Benediktus menekankan tiga prinsip utama yang harus dihidupi oleh seluruh civitas akademika Sekolah Lansia Santa Mathilda agar tujuan mulia ini dapat tercapai.

“Ada tiga hal yang saya tekankan, pertama, datanglah dengan hati riang tanpa beban. Kedua, kita harus saling menjaga satu sama lain di sini. Dan ketiga, jadilah berkat bagi masyarakat. Dengan begitu, masa tua akan menjadi masa yang paling bermakna,” tegasnya.

Melalui dukungan berkelanjutan, Sekolah Lansia Santa Mathilda diproyeksikan untuk dapat mewisuda siswanya secara bertahap, mulai dari jenjang S1 hingga S3 sebagai simbol apresiasi atas keteguhan mereka dalam belajar sepanjang hayat.

Related posts

Probolinggo Buka Orientasi PPPK Gelombang III

Sahal

Persiapan Rampung 95 Persen, Diklat Jurnalistik oleh JMSI Kaltim Segera Dimulai

Intan

Memahami Trauma dengan Perhatian Khusus pada Anak, Kupas Tuntas Luka Masa Kecil Lewat Buku Psikologi

Sukri