Samarinda, Natmed.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai menelusuri penyebab lonjakan harga plastik yang dikeluhkan sejumlah pedagang dan pelaku UMKM dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan yang dikabarkan mencapai tiga kali lipat ini dikhawatirkan memengaruhi biaya operasional usaha dan daya beli masyarakat.
Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan pihaknya sedang melakukan investigasi bersama Dinas Perdagangan. Pemerintah belum mengambil keputusan apa pun sebelum mengetahui faktor sebenarnya.
“Kita masih telusuri kenapa dan bagaimana kenaikannya. Kalau sudah ketemu penyebabnya, baru kita ambil langkah,” ucapnya, Rabu 8 April 2026.
Ia menilai kenaikan harga plastik memiliki pola berbeda dengan komoditas pangan. Meski belum menimbulkan kegaduhan seperti cabai atau bawang, Marnabas mengakui bahwa lonjakan harga plastik tetap memiliki dampak jangka panjang bagi pelaku usaha kecil.
“Kalau sekarang masih satu dua pedagang yang merasa berat. Tapi kalau dibiarkan, memang bisa berpengaruh, makanya kita cari akar masalahnya dulu,” katanya.
Kebutuhan plastik sebenarnya tidak termasuk kebutuhan mendesak kecuali untuk sektor makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan sekali pakai. Untuk sementara, ia menyarankan pelaku UMKM mulai mencari opsi lain.
“Alternatif banyak, misalnya nasi bungkus pakai kertas, atau kemasan lain. Itu bisa dipertimbangkan sambil menunggu hasil kajian,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Samarinda Nadya Turisna menilai kenaikan harga plastik secara global belum berdampak signifikan pada struktur ekonomi daerah, terutama sektor makanan dan minuman yang menjadi penyumbang terbesar pergerakan ekonomi kota.
“Pilihan sebenarnya ada pada masyarakat dan pedagang. Kalau tidak mau keluar biaya lebih untuk plastik, ya bawa tas sendiri atau pakai kemasan ramah lingkungan,” jelasnya.
Nadya menegaskan pemerintah terus mendorong kebiasaan belanja yang bijak dan pengurangan sampah plastik. Menurutnya, perilaku konsumsi masyarakat sangat menentukan apakah kenaikan harga plastik akan menjadi beban atau tidak.
“Masyarakat sekarang harus lebih bijak. Belanja seperlunya, kurangi penggunaan plastik. Kalau beli minuman, bawa tumbler dari rumah,” imbuhnya.
Ia juga menyebutkan bahwa pedagang, khususnya pelaku UMKM makanan dan minuman, dapat mulai beralih ke bahan kemasan yang lebih ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada plastik.
“Pedagang perlu lebih kreatif memilih kemasan. Banyak pilihan selain plastik sekali pakai,” tuturnya.
Pemkot berencana menerbitkan edaran resmi untuk mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar menyesuaikan pola konsumsi di tengah kenaikan harga plastik. Investigasi terus berjalan sebelum pemerintah menentukan langkah intervensi yang tepat.
