Samarinda

Bukan Sekadar Ibadah, Ini Makna Paskah yang Sering Terlewat

Teks: Pastor Moses Komela Avan menyampaikan Makna Paskah di Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi, Jumat,3/4/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Perayaan Paskah yang setiap tahun dijalankan umat Katolik kerap dipahami sebatas rangkaian ibadah keagamaan.

Padahal, di balik ritual tersebut tersimpan makna mendalam tentang cinta kasih, pengorbanan, dan keselamatan yang justru sering terlewat dalam penghayatan umat.

Hal itu disampaikan Pastor Paroki Gereja Katedral Santa Maria Penolong Abadi, Moses Komela Avan, saat ditemui usai ibadah Jumat Agung, Jumat 3 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa Paskah dalam Katolik bukanlah perayaan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan satu kesatuan utuh yang berlangsung selama tiga hari.

“Perayaan ini bukan potongan-potongan. Ini satu kesatuan dari Kamis Putih, Jumat Agung, sampai malam Paskah. Kalau dipahami terpisah, maknanya jadi tidak utuh,” ujarnya.

Kamis Putih menjadi titik awal yang sering kali tidak dimaknai secara mendalam. Padahal, pada momen tersebut, Yesus memberikan pesan inti tentang cinta kasih melalui tindakan nyata, yakni membasuh kaki para murid sebagai simbol kerendahan hati dan pelayanan.

“Pesan utama Kamis Putih itu sederhana tapi dalam, yaitu perintah untuk saling mengasihi. Dan itu bukan sekadar kata-kata, tapi ditunjukkan lewat tindakan,” jelasnya.

Memasuki Jumat Agung, umat diajak untuk merenungkan pengorbanan terbesar dalam iman Kristiani, yakni wafatnya Yesus. Namun, Pastor Moses menilai makna ini sering kali hanya dipahami sebagai peristiwa penderitaan, tanpa melihat esensi kasih yang melatarbelakanginya.

“Cinta kasih yang paling besar itu ketika Allah mengasihi kita bukan karena kita pantas, tapi karena kita perlu diselamatkan. Itu yang sering tidak disadari,” tegasnya.

Dalam iman Katolik, Yesus tidak hanya hadir sebagai manusia, tetapi juga masuk sepenuhnya ke dalam realitas kehidupan manusia, termasuk penderitaan dan kematian. Hal ini menjadi dasar keyakinan bahwa keselamatan manusia terjadi melalui pengorbanan tersebut.

“Yesus masuk ke dalam kematian, dan itu bukan akhir. Puncaknya adalah kebangkitan. Di situlah iman kita berdiri, bahwa kehidupan manusia diselamatkan oleh kasih Allah,” katanya.

Puncak perayaan sendiri berlangsung pada malam Paskah, yang dikenal sebagai momen berjaga untuk menyambut kebangkitan Yesus. Namun, Pastor Moses menekankan bahwa esensi Paskah tidak berhenti pada perayaan liturgi semata.

“Malam Paskah itu bukan sekadar seremoni. Itu simbol harapan, simbol bahwa kehidupan mengalahkan kematian,” ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana umat menghidupi nilai-nilai Paskah dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai masih banyak umat yang menjalankan ibadah secara rutin, tetapi belum sepenuhnya menghayati pesan yang terkandung di dalamnya.

“Harapan kami, umat tidak hanya mengikuti perayaannya, tapi sungguh mengerti, mengimani, dan menghayati. Karena inti Paskah itu adalah cinta kasih yang melayani dan berkorban,” ungkapnya.

Jika nilai tersebut benar-benar dihidupi, maka dampaknya tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga sosial. Cinta kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata diyakini mampu membawa perubahan yang lebih luas di tengah masyarakat.

“Kalau cinta kasih itu dijalankan, kebaikan akan melahirkan kebaikan lain. Itu tidak hanya untuk umat, tapi untuk dunia,” pesannya.

Related posts

Masa Toleransi Berakhir, Satpol PP Samarinda Imbau Pedagang Tinggalkan Trotoar

Aminah

Jam Buka hingga Program Literasi, Inilah Layanan Perpustakaan Kota Samarinda

Aminah

Mahasiswi Uwigama Tak Kunjung Pulang, Pamit Datangi Teman

natmed