Samarinda, Natmed.id – Ketua Tim Ahli Gubernur (TAG) Kalimantan Timur Irianto Lambrie menekankan bahwa intelektualitas seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari gelar akademik, tetapi dari kemampuan berpikir kritis yang dibarengi dengan etika dan akurasi data.
Hal tersebut disampaikannya pada diskusi publik dengan tema Bicara Data, Bicara Fakta, Korelasi Data dan Fakta Pembangunan Kaltim di Bawah Pemerintahan Rudy Mas’ud dan Seno Aji di Ruang Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim pada Jumat, 6 Maret 2026.
Irianto mengawali materinya dengan mengingatkan bahwa identitas utama seorang mahasiswa adalah kemampuannya dalam menulis dan menyusun gagasan.
Menurutnya, skripsi bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan pembuktian bahwa seorang sarjana mampu berpikir sistematis.
“Kemampuan kita dinilai ketika lulus universitas dari cara kita menulis. Jika skripsinya buruk dan tidak bisa dipertanggungjawabkan saat ujian, maka kualitas intelektualitasnya patut dipertanyakan,” ujar Irianto saat menyampaikan materi.
Ia juga menambahkan bahwa kedisiplinan akademik, termasuk pencapaian IPK yang baik, merupakan modal penting untuk menjadi pemimpin di masa depan, minimal dalam lingkup keluarga.
Menanggapi dinamika aktivis mahasiswa di Kalimantan Timur, Irianto menyatakan dukungannya terhadap sikap kritis mahasiswa sebagai bagian dari demokrasi. Namun, ia memberikan catatan keras mengenai adab dalam menyampaikan aspirasi.
“Kita mengkritik boleh, itu bagian dari kebebasan berpendapat. Saya pun sering bersikap kritis. Tapi jangan sampai mencaci maki, menghina, atau memfitnah, apalagi kepada orang tua atau pemimpin,” tegasnya.
Ia mengingatkan adanya konsekuensi hukum, seperti UU ITE dan KUHP, yang dapat menjerat siapa saja yang tidak berhati-hati dalam berkomunikasi di ruang publik maupun media sosial.
Irianto membandingkan perjuangan mahasiswa zamannya dengan era digital saat ini. Jika dulu ia harus berlama-lama di perpustakaan dan mencari data manual ke Badan Pusat Statistik (BPS), mahasiswa sekarang memiliki akses luar biasa melalui teknologi informasi.
Ia mendorong mahasiswa untuk proaktif melakukan riset sebelum memberikan pernyataan publik.
“Sejak semester tiga, saya sudah menjadi asisten dosen karena ketekunan dalam mencari data. Jadi, kalau bicara, saya selalu membawa data yang sumber dan tingkat kepercayaannya bisa dipertanggungjawabkan. Mahasiswa sekarang harusnya lebih hebat karena semua sudah ada di genggaman,” imbuhnya.
Irianto mengajak mahasiswa untuk melihat kinerja Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur secara objektif. Ia mencontohkan sosok Gubernur Isran Noor sebagai pemimpin yang fokus bekerja meskipun terkadang kurang dalam publikasi media.
Ia membeberkan fakta bahwa gubernur saat ini, Rudy Mas’ud sangat rajin turun ke lapangan hingga ke daerah pelosok dan pesisir untuk melihat langsung kondisi masyarakat hal yang menurutnya jarang dilakukan oleh pemimpin lain dengan intensitas yang sama.
Selain itu, ia menyoroti kepedulian sosial gubernur melalui program-program yang menyentuh masyarakat luas namun tetap dilakukan dengan rendah hati.
“Jangan mudah terprovokasi oleh pemberitaan yang sepihak. Orang yang berpengetahuan tidak akan mudah digiring untuk hal-hal yang buruk. Fokuslah pada fakta dan pembangunan yang sedang berjalan, seperti infrastruktur jangka panjang yang kini tengah dirasakan manfaatnya oleh warga Kaltim,” pungkasnya.
