Samarinda, Natmed.id – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda Asli Nuryadin mengakui bahwa pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan jumlah penerima manfaat mencapai ribuan orang bukan perkara mudah.
Meski demikian, ia optimistis pelaksanaan dapur MBG Muhammadiyah di Kalimantan Timur (Kaltim) dapat menjadi model ke depan.
“Yang namanya mengelola orang banyak itu pasti ada kekurangan, karena kita bukan malaikat. Tapi itu menjadi evaluasi berikutnya,” ujar Asli usai peresmian Dapur MBG Muhammadiyah Kaltim di Komplek SPPG Muhammadiyah, Rabu 25 Februari 2026.
Ia menjelaskan, satu dapur MBG dapat melayani hingga 3.000 penerima manfaat. Skala tersebut, menurutnya, membutuhkan manajemen yang tertata, disiplin dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP), serta pengawasan yang konsisten.
“Yang mengurus ribuan orang itu tidak mudah. Satu dapur ini maksimal sampai 3.000-an. Tapi biarlah waktu yang menilai nanti,” katanya.
Asli menyebut Muhammadiyah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola program sosial serupa, khususnya di Pulau Jawa. Pengalaman itu menjadi modal penting untuk pengembangan program di Samarinda dan Kaltim.
“Kita koordinasi dan bersyukur. Seperti kita ketahui bahwa Muhammadiyah ini persarikatannya luar biasa. Di Jawa mereka sudah biasa menjalankan model seperti ini,” ujarnya.
Ia berharap dapur MBG yang diresmikan ini menjadi model pertama Muhammadiyah di Kaltim dan dapat berkembang lebih luas.
“Kita harapkan ini yang pertama di Muhammadiyah Kaltim dan juga menjadi model nanti. Saya optimis karena melihat pengalaman kawan-kawan,” katanya.
Pelaksanaan program yang bertepatan dengan bulan Ramadan juga menjadi perhatian. Namun Asli menegaskan, pengelola dapur telah memiliki SOP tersendiri, termasuk standar gizi dan sistem pengawasan.
“Saya kira standar gizi dan tim pengawasan mereka sudah punya SOP sendiri. Kita sekadar koordinasi dan memberikan masukan,” jelasnya.
Ia menilai dalam program berskala besar, tidak mungkin semua pihak merasa sepenuhnya puas.
“Kalau kita ingin semuanya harus memuaskan orang, saya kira tidak mungkin. Itu hukum alam. Berbuat yang baik pun pasti ada kekurangannya. Tapi kekurangan itu kita evaluasi untuk perbaikan ke depannya,” tegasnya.
Asli menambahkan, selama pengelolaan dapur mengikuti SOP baik pengaturan dapur kering maupun dapur basah program diyakini dapat berjalan optimal.
“Selama kita waspada, mengikuti SOP yang sudah ada, dapur kering, dapur basah, segala macam sudah lengkap, tinggal kita lihat nanti pelaksanaannya,” ujarnya.
Ia pun menekankan bahwa program MBG merupakan langkah strategis dalam mendukung pemenuhan gizi peserta didik.
“Program ini sangat luar biasa. Paling tidak kita bersyukur, anak-anak bisa dapat makan gratis. Tapi tentu tetap harus kita kawal bersama,” pungkasnya.
