Politik

Gagal Rebut Suara Gen Z, PPP Kaltim Segera Lakukan Evolusi Politik

Teks: Ketua DPW PPP Kaltim Gamalis (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kalimantan Timur mengakui kegagalannya merebut suara pemilih generasi Z menjadi faktor utama hilangnya sejumlah kursi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Evaluasi tersebut disampaikan langsung Ketua DPW PPP Kaltim Gamalis, yang menilai partai perlu melakukan evolusi politik agar tetap relevan di tengah perubahan demografi pemilih.

Paradigma lama PPP yang masih lekat sebagai partai tradisional menjadi hambatan serius dalam menjangkau pemilih muda yang kini mendominasi komposisi pemilih.

“Kita ini masih memposisikan diri sebagai partai sarungan, partai orang tua, partai kopiah. Sementara Gen Z jumlahnya sudah sampai 60 persen. Kalau kita tidak menyesuaikan, ya kita lewat lagi,” ujar Gamalis di sela Musyawarah Wilayah (Muswil) X PPP Kaltim, Rabu 4 Februari 2026.

Perubahan yang dibutuhkan bukan sekadar penyesuaian simbolik, melainkan transformasi menyeluruh dalam cara berpikir, berkomunikasi, dan membangun kedekatan politik dengan generasi muda. Tanpa keberanian keluar dari pakem lama, PPP akan terus tertinggal dalam kontestasi politik ke depan.

Sebagai langkah konkret, Gamalis mewajibkan seluruh kader dan pengurus PPP Kaltim untuk aktif di media sosial. Platform digital dinilai sebagai ruang utama komunikasi politik dengan Gen Z yang tidak bisa lagi diabaikan.

“Saya wajibkan punya media sosial. Instagram, TikTok, Facebook, silakan. Kalau merasa tidak bisa, suruh anaknya yang mengelola. Anak muda paham itu,” katanya.

Gamalis yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Berau itu bahkan menyampaikan peringatan tegas kepada kader yang enggan beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Kalau masih tidak mau berubah dan tidak mau beradaptasi, ya jangan berharap bisa jadi anggota DPR lagi,” ujarnya.

Meski mendorong modernisasi, Gamalis menekankan bahwa upaya merangkul generasi muda tidak berarti meninggalkan jati diri PPP. Basis pesantren, ulama, dan masjid tetap menjadi fondasi ideologis partai yang tidak boleh ditanggalkan.

“Kita boleh berubah, tapi tidak meninggalkan pakem utama,” katanya.

Evaluasi ini menjadi pelajaran penting bagi PPP Kaltim untuk menyusun strategi politik yang lebih adaptif menjelang pemilu mendatang.

Ia berharap, dengan membuka diri terhadap perubahan demografi pemilih dan perkembangan teknologi, PPP dapat kembali merebut kepercayaan publik, khususnya generasi muda, tanpa kehilangan identitas dasarnya sebagai partai berbasis keislaman.

Related posts

Kartiyono: Meski Pandemi, Semangat Pemuda Harus Tetap Menyala

Phandu

UU Cipta Kerja: Surga atau Fatamorgana

natmed

DPRD Samarinda Minta Pembagian Kios Pasar Prioritaskan Pedagang Lama

Sukri