Samarinda

Rumah Ulin Arya dalam Mata Wisatawan Asal Sulawesi Tengah

Teks: Syafitri dan Ahmad Insan, Pengunjung Wisata Rumah Ulin Arya asal Palu, Sulteng.

Samarinda, Natmed.id – Keasrian panorama alam dipadu dengan konsep edukasi satwa yang ditawarkan Rumah Ulin Arya, Samarinda, sukses mencuri perhatian wisatawan lintas pulau.

Di tengah tren wisata modern yang serba artifisial, destinasi hijau di Ibu Kota Kalimantan Timur (Kaltim) ini justru memberikan kesan mendalam bagi para pelancong, termasuk bagi Ahmad Insan dan Syafitri, pasangan wisatawan asal Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kunjungan mereka pada Jumat, 2 Januari 2026 menjadi bukti bahwa kekuatan ekosistem alam yang terjaga mampu menjadi daya tarik magnetis bagi pengunjung luar daerah yang mencari pengalaman berbeda di hari libur tahun baru.

Bagi Ahmad dan Syafitri, Rumah Ulin Arya bukan sekadar titik persinggahan untuk berswafoto. Mereka melihat tempat ini sebagai ruang belajar terbuka.

Syafitri, yang merupakan mahasiswi semester awal di Universitas Tadulako, mengungkapkan bahwa pengalaman bersentuhan langsung dengan fauna memberikan perspektif baru yang tidak ia temukan pada destinasi wisata di daerah asalnya.

“Di sini kami mendapatkan edukasi, kami bisa melihat dan mempelajari satwa-satwa yang sebelumnya belum pernah kami temui secara langsung. Benar-benar sebuah pengalaman baru yang sangat berharga,” ujar Syafitri.

Kekaguman senada diungkapkan Ahmad yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Samarinda. Baginya, keberanian berinteraksi dengan satwa menjadi catatan tersendiri dalam perjalanannya kali ini.

“Tadi saya bahkan sempat memegang ular di area depan. Pengalaman ini seru sekali, apalagi di Palu sendiri belum ada tempat wisata alam yang mengintegrasikan koleksi dengan suasana yang masih asri seperti ini,” tutur Ahmad.

Selain keasrian fisik lokasi, Ahmad menyoroti bagaimana harmoni alam di Rumah Ulin Arya sejalan dengan karakter masyarakat Samarinda yang ia temui.

Meskipun ia mengakui cuaca di Samarinda tidak jauh berbeda dengan teriknya Kota Palu, namun keramahan penduduknya memberikan kesejukan tersendiri bagi para pendatang.

“Kotanya bersih dan tertata. Selain itu, orang-orang di sini sangat ramah dan bicaranya lembut, sangat kontras dengan cara bicara kami di Sulawesi yang cenderung keras,” tambahnya.

Meski sempat berseloroh mengenai burung Merak yang enggan memamerkan keindahan ekornya, hal tersebut tidak mengurangi kekaguman mereka terhadap manajemen satwa di lokasi tersebut.

Kunjungan ini juga menjadi momen bagi keduanya untuk merefleksikan resolusi di tahun 2026. Di tengah rimbunnya pohon ulin, mereka menggantungkan harapan besar, baik untuk kemajuan pariwisata daerah maupun rencana pribadi mereka.

Syafitri berharap agar pengelola wisata di Samarinda terus mengeksplorasi potensi alam yang ada agar pengunjung tidak merasa jenuh. Di sisi lain, terdapat doa yang mereka sebut sebagai amin paling serius untuk tahun ini.

“Harapan pribadi tentu ingin diberi kesehatan dan rezeki yang lancar. Namun, harapan inti dari yang paling inti adalah semoga hubungan kami berdua bisa segera sampai ke pelaminan. Insya Allah, tahun ini,” ungkap pasangan ini dengan penuh optimisme.

Sebelum kembali ke Sulawesi pada akhir pekan ini, Ahmad dan Syafitri berkomitmen untuk menyebarluaskan keasrian Rumah Ulin Arya melalui unggahan konten vlog yang mereka rekam sepanjang hari.

Mereka ingin menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa Samarinda memiliki permata wisata alam yang edukatif dan patut dikunjungi.

Related posts

KSOP Samarinda Masih Lakukan Penyelelidikan Penabrak Tongkang

natmed

Resmi Pimpin KKSS Samarinda, Muslimin Berkomitmen Majukan Kota

ericka

Dealsy Agnesia, Pembawa Baki Upacara HUT ke-76 RI di Kantor Gubernur Kaltim

Febiana