Kalimantan Timur

Perayaan Imlek Digelar Sederhana, Empati Warga Khonghucu di Kaltim untuk Bencana di Indonesia

Teks: Ketua Matakin Provinsi Kaltim, Deddy Rusli saat Memberikan Keterangan Pers, Sabtu malam, 21/2/26 (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Kaltim Deddy Rusli menegaskan bahwa perayaan tahun ini sengaja dikemas dalam nuansa kesederhanaan yang mendalam sebagai bentuk empati kolektif terhadap sesama warga negara yang sedang tertimpa musibah.

Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Provinsi Kalimantan Timur tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat solidaritas nasional di tengah berbagai tantangan bangsa.

Meskipun Imlek identik dengan kemeriahan, umat Khonghucu di Kalimantan Timur memilih untuk menahan diri dari perayaan yang bersifat hura-hura.

Keputusan ini diambil sebagai bentuk kepedulian terhadap bencana alam yang terjadi di beberapa titik di Indonesia, seperti di Sumatera Utara dan Aceh, hingga musibah banjir yang melanda warga lokal di Kaltim.

“Kami merayakan tahun ini dengan sangat sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Langkah ini adalah wujud solidaritas kami melihat saudara-saudara kita yang sedang berduka akibat bencana. Fokus utama kami saat ini adalah pada aspek ibadah dan penguatan spiritualitas,” ungkap Deddy, Sabtu, 21 Februari 2026.

Menyelaraskan dengan tema nasional Imlek 2577, yakni “Kalau Ada Keadilan, Tiada Persoalan Kemiskinan” (益 均 无 贫, Gǎi Jūn Wú Pín), Deddy Rusli memberikan tinjauan kritis mengenai pentingnya integritas bagi para pemimpin di semua tingkatan.

Ia menilai bahwa ketidakadilan merupakan akar dari kecemburuan sosial yang dapat menghambat kemajuan sebuah daerah.

“Pesan kami kepada para pemimpin, baik di tingkat keluarga, lingkungan, hingga pemerintahan pusat, jadilah adil. Jika keadilan itu tegak, maka rasa iri dan dengki di masyarakat akan hilang. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih tenang untuk fokus berkarya, berkreasi, dan bekerja membangun bangsa,” jelasnya lebih lanjut.

Salah satu poin krusial yang disampaikan Deddy adalah posisi tawar Kalimantan Timur sebagai wilayah dengan indeks kerukunan umat beragama yang sangat tinggi.

Keharmonisan ini, menurutnya, bukan terjadi secara instan, melainkan hasil dari komunikasi intensif antartokoh agama yang tergabung dalam FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama).

Deddy meyakini bahwa stabilitas sosial yang terjaga di Benua Etam menjadi salah satu variabel kunci penempatan Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah ini.

Kehadiran perwakilan dari enam agama dalam acara syukur Imlek menunjukkan inklusivitas yang kuat di Kaltim. Nilai toleransi Kaltim yang berada di atas rata-rata nasional menjadi jaminan keamanan bagi transisi pusat pemerintahan ke IKN.

Para tokoh lintas iman secara aktif melakukan koordinasi hingga ke wilayah pelosok seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu guna memastikan tidak ada gesekan horizontal.

Deddy Rusli menyampaikan optimismenya terhadap pertumbuhan umat Khonghucu di Kalimantan Timur. Ia mengajak warga yang masih memiliki keraguan atau trauma masa lalu terhadap identitas keagamaan mereka untuk kembali beribadah dengan tenang.

Apalagi, saat ini fasilitas ibadah di Kaltim sudah sangat representatif dan diakui sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah, termasuk Klenteng yang kini juga berfungsi sebagai pusat wisata religi.

Ia berharap generasi muda dapat meneruskan estafet kepemimpinan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebajikan dan moderasi beragama demi masa depan Kaltim yang lebih baik.

Related posts

APBD Perubahan Kaltim 2025 Naik Jadi Rp21,74 Triliun

Aminah

Ke Depan Kaltim Tidak Bergantung Lagi Pada  Migas Dan Batu Bara

Nediawati

Minyak Urut Dayak Ngaju, Wujud Eksistensi Perempuan Adat dan Kearifan Lokal

Aminah