Samarinda, Natmed.id – Peresmian Masjid Hubbul Wathon di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kecamatan Loa Janan Ilir tidak hanya menjadi simbol berdirinya bangunan fisik yang megah, tetapi juga potret kemandirian umat dalam mengelola rumah ibadah.
Melalui inovasi sedekah sampah, masjid ini berhasil menjalankan program sosial yang berdampak langsung bagi warga sekitar. Ketua Panitia Pelaksana, Roni Herman mengungkapkan bahwa masjid ini memiliki filosofi kemandirian yang kuat.
Salah satu buktinya adalah keberlangsungan program pangan untuk jemaah yang tidak sepenuhnya bergantung pada proposal bantuan, melainkan pada kreativitas pengelolaan limbah.
“Kami memiliki program Jumat Berkah yang rutin dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Sumber dananya unik, selain dari donatur, sebagian besar berasal dari swadaya masyarakat melalui pengelolaan sampah,” ujar Roni pada Minggu, 5 April 2026.
Inovasi pengelolaan limbah ini menjadi pembeda Masjid Hubbul Wathon dengan rumah ibadah lainnya. Roni menjelaskan bahwa sistem ini melibatkan partisipasi aktif warga dalam mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis.
“Kami mengumpulkan dan mengelola limbah sampah dari lingkungan sekitar hingga menghasilkan nilai ekonomis. Dana yang terkumpul itu kemudian kami gunakan untuk men-support kegiatan Jumat Berkah dan operasional sosial lainnya. Jadi, dari sampah menjadi berkah bagi umat,” jelas Roni.
Program ini, menurut Roni sejalan dengan visi masjid untuk menjadi pusat pemberdayaan masyarakat di wilayah Loa Janan Ilir. Selain aspek lingkungan, masjid ini juga aktif dalam pendidikan melalui Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan kegiatan penguatan ukhuwah Islamiyah.
Keberhasilan membangun masjid di pinggir jalan poros Cipto Mangunkusumo ini merupakan buah dari keputusan strategis pengurus untuk pindah dari lokasi lama yang berada di dalam kawasan industri.
“Masjid Hubbul Wathon pada awalnya berdiri di dalam kawasan industri sebagai sarana ibadah para pekerja. Namun, mempertimbangkan faktor aksesibilitas dan keamanan, maka kami pindahkan ke lokasi yang lebih terbuka ini agar masyarakat lebih mudah menjangkau,” kata Roni.
Meski telah menunjukkan kemandirian luar biasa, Roni Herman tetap berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kota Samarinda terkait fasilitas darurat yang sangat dibutuhkan warga sekitar, yakni mobil ambulans.
“Jujur, kami saat ini masih sangat kekurangan fasilitas ambulans. Unit yang ada sekarang kondisinya sudah cukup tua dan sering terkendala saat kondisi darurat. Kami berharap Bapak Wali Kota dapat memberikan dukungan agar layanan kesehatan bagi warga kami bisa lebih maksimal,” tuturnya.
Lebih lanjut, Roni menekankan bahwa pengelolaan masjid akan terus dikembangkan agar memberikan manfaat yang lebih luas.
“Harapan kami, Masjid Hubbul Wathon tidak hanya sekadar tempat salat, tetapi berkembang menjadi pusat peradaban, pendidikan, dan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Samarinda, khususnya di Loa Janan Ilir,” tutup Roni.
