Pendidikan

Dari Samarinda untuk Indonesia: Semangat Bangkit, Tapi APS Anak Usia Dini Masih Jadi PR

Teks: Bunda Literasi Kota Samarinda, Rinda Wahyuni Andi Harun saat menyampaikan sambutannya. (Natmed.id/Ratu)

Samarinda, Natmed.Id – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Tahun 2026 di Kota Samarinda dirangkai dengan kegiatan Launching Karya dan Berbagi Praktik Baik yang mengusung tema “Dari Samarinda untuk Indonesia: Bangkit, Bergerak, Berdampak dalam Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Kegiatan tersebut digelar pada Jumat, 22 Mei 2026 di Aula Lantai 4 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Jalan Biola No. 4A, Kelurahan Sungai Pinang Luar.

Dalam kesempatan tersebut, Bunda Literasi Kota Samarinda Hj Rinda Wahyuni Andi Harun menyampaikan pentingnya momentum kebangkitan nasional sebagai titik refleksi untuk mendorong kemajuan pendidikan melalui kolaborasi berbagai pihak.

Ia menilai tema yang diangkat memiliki makna kuat karena mengajak semua elemen untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pelaku perubahan dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, pendidikan bermutu tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi antara pendidik, orang tua, masyarakat, organisasi, hingga pemerintah. Ia juga mengapresiasi kegiatan peluncuran karya dan praktik baik sebagai bentuk nyata inovasi yang tumbuh di lingkungan pendidikan Samarinda.

“Praktik baik yang lahir dari sekolah-sekolah adalah bukti bahwa pendidikan di Samarinda terus bergerak maju. Dari ruang kelas, kreativitas guru, hingga semangat anak-anak, semua berkontribusi menciptakan perubahan yang berdampak lebih luas,” ujarnya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya literasi, khususnya kemampuan menulis, sebagai sarana mengembangkan kreativitas dan kepercayaan diri anak. Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga media bagi anak untuk mengekspresikan gagasan, emosi, dan imajinasi mereka.

Namun, di balik optimisme tersebut, Rinda juga menyoroti tantangan serius dalam dunia pendidikan, khususnya terkait rendahnya Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk anak usia dini di Samarinda. Ia mengungkapkan bahwa APS untuk anak usia hingga 6 tahun saat ini baru mencapai 63,17 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 88,64 persen.

Dari sekitar 30 ribu anak usia 5–6 tahun di Samarinda, hanya sekitar 10 ribu yang terdaftar di jenjang PAUD dan TK. Kondisi ini membuat capaian target pendidikan usia dini baru berada di angka sekitar 36 persen.

Ia menilai salah satu penyebab rendahnya partisipasi tersebut adalah masih adanya persepsi di masyarakat bahwa anak dapat langsung masuk SD tanpa melalui PAUD atau TK. Selain itu, faktor ekonomi serta maraknya bimbingan belajar calistung juga turut memengaruhi.

“Padahal, PAUD itu penting untuk membentuk karakter, kemampuan sosial, dan kesiapan anak sebelum masuk jenjang pendidikan berikutnya,” tegasnya.

Ia pun mendorong adanya koordinasi lebih lanjut antara pemangku kebijakan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat PAUD hingga SD, guna menyusun strategi bersama dalam meningkatkan partisipasi pendidikan anak usia dini.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat komitmen bersama untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkualitas di Samarinda, sekaligus mendukung terciptanya generasi emas di masa depan.

Related posts

PGRI Desak Kepastian Status Guru Honorer, PNS atau PPPK

Aminah

Sepatu Kekecilan Berujung Fatal, Bantuan Sepatu hingga Seragam Bisa Diakses Siswa

Aminah

Menguasai Suara, Trik Public Speaking di Podcast Dari Teh Intan

natmed