Samarinda, Natmed.id – Harapan ratusan siswa SDN 010 Palaran untuk segera menempati gedung baru yang representatif harus tertunda.
Proyek renovasi total yang didanai Pemerintah Kota Samarinda sebesar Rp10 miliar tersebut menghadapi hambatan serius di sektor teknis fondasi, yang mengakibatkan pengerjaan struktur atas tidak berjalan sesuai target awal.

Kepala Sekolah SDN 010 Palaran Sarti mengungkapkan bahwa kendala utama muncul akibat kondisi geologis tanah yang tidak terduga di lokasi pembangunan.
Hal ini memaksa terjadinya pergeseran alokasi anggaran secara besar-besaran hanya untuk memastikan kekokohan struktur bawah bangunan.
“Dana dari perencanaan awal yang pemasangan tiang pancang itu dialokasikan 18 meter sudah menembus tanah keras, ternyata di lapangan sampai dengan 30 meter baru menembus tanah keras. Sehingga (anggaran) tersedot di situ,” jelas Sarti saat diwawancara awak media pada Kamis, 23 April 2026.
Akibat biaya yang tertelan di bawah tanah tersebut, empat ruangan yang direncanakan pada tahap pertama ini akhirnya tidak dapat diselesaikan tepat waktu.
Ketimpangan antara rencana awal dan realisasi lapangan ini menyebabkan proyek yang seharusnya rampung pada Desember 2025 menjadi molor hingga awal tahun 2026.
Sarti menekankan bahwa pembaruan gedung ini sebenarnya adalah penantian panjang, mengingat kondisi bangunan lama yang sangat tertinggal dibandingkan sekolah lain di sekitarnya.
“Sebelum direnovasi, sekolah ini sebenarnya dalam kondisi rusak parah. Satu-satunya sekolah yang ada di Palaran bangunannya itu masih kayu, yang lainnya sudah bangunan beton,” tuturnya.
Dampak dari terhambatnya pembangunan ini paling dirasakan oleh sekitar 300 siswa yang hingga kini masih harus menumpang di SDN 024 Palaran.
Keterbatasan ruang kelas di sekolah tumpangan membuat aktivitas belajar mengajar dilakukan dengan penuh kreativitas sekaligus keprihatinan.
“Kami menumpang di SDN 024 Palaran. Karena sekolah yang kita tumpangi itu hanya punya 8 lokal, sementara kami perlu 12 lokal, jadi mau tidak mau ada ruangan yang pagi dipakai untuk ruang Kepala Sekolah dan TU, nanti siangnya baru dipakai anak-anak untuk belajar,” papar Sarti mengenai sistem double shift yang mereka jalani.
Meski masuk pada jam siang hingga sore hari, Sarti bersyukur karena orang tua murid sejauh ini sangat kooperatif. Namun, ia tidak menampik kekhawatiran mengenai kondisi mebel sekolah yang kian rusak karena disimpan terlalu lama di area terbuka atau ditumpuk.
Di balik kendala yang ada, Sarti telah menyusun visi besar jika nantinya gedung 14 ruangan tersebut rampung sepenuhnya.
Ia tidak ingin SDN 010 Palaran hanya sekadar memiliki gedung beton, tetapi juga fasilitas pendukung pendidikan yang modern untuk menyaingi sekolah-sekolah di pusat kota.
“Harapannya ke depan bukan hanya ruang kelas. Kami juga sebenarnya pengen punya ruang laboratorium, kemudian kantin sehat, dan sebagainya,” kata Sarti penuh harap.
Ia juga meminta dukungan pemerintah agar pengadaan mebel baru seperti meja dan kursi siswa bisa dilakukan berbarengan dengan penyelesaian fisik bangunan tahun ini.
“Mohon doanya, mudah-mudahan selesai tahun ini. Kami sudah lama di sana (menumpang) dan kami ingin anak-anak bisa segera kembali belajar di gedung sendiri dengan fasilitas yang memadai,” pungkasnya.
