Samarinda, Natmed.id – Wali Kota Samarinda, Andi Harun memberikan tausiyah mendalam mengenai pentingnya memaksimalkan sisa hari di bulan suci saat menghadiri agenda buka puasa bersama di Masjid Darul Hannan pada Selasa, 10 Maret 2026.
Dalam tausiahnya, Andi Harun mengajak jamaah untuk tidak sekadar terjebak dalam rutinitas seremonial, melainkan mengejar kedalaman spiritual di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Andi Harun mengulas secara khusus mengenai keutamaan malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Ia mengingatkan bahwa meskipun waktu pastinya merupakan rahasia Allah, terdapat isyarat-isyarat kuat yang ditinggalkan melalui lisan Rasulullah dan para sahabat untuk memacu semangat beribadah umat.
“Banyak ulama memberikan isyarat, termasuk merujuk pada hadis Ubay bin Ka’ab, bahwa kemuliaan malam Lailatul Qadar seringkali jatuh pada malam ke-27 Ramadan. Namun, esensinya bukan sekadar menebak tanggal, melainkan bagaimana kita menghidupkan setiap malam di sepuluh hari terakhir dengan ibadah terbaik, seolah-olah ini adalah Ramadan terakhir bagi kita,” ujar Andi Harun.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberkahan hidup sangat bergantung pada seberapa dekat seorang hamba dengan Al-Qur’an. Andi Harun memberikan tamsil bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang hanya akan menyinari hati mereka yang membuka diri untuk berinteraksi dan mendalami maknanya secara konsisten.
“Rahasia dan keajaiban Al-Qur’an tidak akan terbuka bagi mereka yang jauh. Ia hanya akan menunjukkan keberkahannya kepada orang-orang yang merasa akrab dan bersahabat dengannya. Saya mengajak kita semua, di tengah kesibukan dunia, jangan pernah lepaskan interaksi dengan kitab suci ini agar hidup kita senantiasa dalam tuntunan-Nya,” tambahnya.
Sebagai penutup, Andi Harun mengingatkan bahwa indikator keberhasilan ibadah puasa bukan terletak pada kemeriahan hari raya, melainkan pada dampak sosial dan perubahan karakter pasca-Ramadan. Menurutnya, puasa yang berhasil adalah yang mampu mencetak pribadi yang lebih jujur, sabar, dan peduli sesama.
“Kesuksesan kita menjalankan Ramadan bukan diukur dari berapa banyak baju baru atau hidangan saat Lebaran, tetapi dari sejauh mana perilaku kita bertransformasi menjadi lebih baik setelah Ramadan berakhir,” pungkas Andi Harun.
