Samarinda

Pemuda Tani Terancam Tertinggal Jika Gagal Adaptasi Teknologi

Teks: Akademisi Universitas Mulawarman sekaligus penasehat Pemuda Tani Indonesia (PTI), Muh Ichsan Haris, saat menyampaikan materinya. (Natmed.id/Ratu)

Samarinda, Natmed.id – Tantangan terbesar pemuda tani hari ini bukan lagi sekadar soal lahan atau produksi, melainkan kesiapan menghadapi perubahan pola pikir di era digital. Jika tidak mampu beradaptasi, generasi muda berpotensi tertinggal dalam arus revolusi pertanian modern.

Hal tersebut disampaikan oleh akademisi Universitas Mulawarman sekaligus penasehat Pemuda Tani Indonesia (PTI), Muh Ichsan Haris, dalam Seminar Sekolah Tani Muda yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Cabang PTI Kota Samarinda, Minggu, 31 Mei 2026.

Menurutnya, revolusi pertanian tidak lagi bisa dimaknai sebatas aktivitas bercocok tanam tradisional. Pertanian harus bergerak ke arah modernisasi berbasis teknologi, kreativitas, dan kewirausahaan.

“Revolusi tani tidak hanya berfokus pada kegiatan bercocok tanam, tetapi juga modernisasi teknologi, kreativitas, kewirausahaan, dan edukasi pertanian modern,” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa pemuda usia 15 hingga 29 tahun memiliki potensi besar dalam mengadopsi teknologi. Namun, potensi tersebut tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan perubahan paradigma dan sikap terhadap perkembangan zaman.

Ichsan menjelaskan, terdapat tiga sikap utama dalam menghadapi perubahan. Pertama adalah status quo, yaitu sikap bertahan pada cara lama tanpa keinginan beradaptasi. Kedua adalah transformasi, yakni kemampuan untuk berubah mengikuti perkembangan. Ketiga adalah kecenderungan mengikuti perkembangan secara aktif.

“Sikap status quo ini yang berbahaya. Pola pikirnya masih melihat bertani hanya sebatas mencangkul, mengolah tanah, lalu menjual hasilnya. Kalau ini tidak diubah, pemuda akan tertinggal,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa teknologi tidak bisa dihindari dan justru harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian. Era digital membuka peluang baru, mulai dari komunikasi, pemasaran, hingga pengelolaan usaha tani berbasis teknologi.

Menurutnya, kunci utama menghadapi perubahan tersebut terletak pada kesiapan mental dan cara pandang generasi muda terhadap sektor pertanian itu sendiri.

“Yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan teknis, tapi juga sikap terhadap perubahan. Kalau mindset tidak berubah, teknologi secanggih apapun tidak akan berdampak,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tanpa keterlibatan aktif pemuda, sektor pertanian akan kesulitan berkembang di tengah tuntutan zaman, terutama di daerah yang tengah menghadapi peningkatan kebutuhan pangan seperti Samarinda.

Dengan demikian, peran pemuda tidak lagi bisa diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai aktor utama dalam mendorong transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, adaptif, dan berkelanjutan.

Related posts

Pemprov Diminta Tak Cuci Tangan Soal Redistribusi JKN

Sukri

Subsidi Tepat Sasaran dan Realisasi Indonesia Sentris

Febiana

Data e-EPGM Tunjukkan Stunting Samarinda Turun ke 15 Persen

Aminah