Pendidikan

Sepatu Kekecilan Berujung Fatal, Bantuan Sepatu hingga Seragam Bisa Diakses Siswa

Teks: Plt Kepala Disdikbud Kaltim Armin saat memberikan keterangan pers usai menghadiri Sarasehan Pendidikan di Hotel Fugo Samarinda, Sabtu 2/5/2026. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur (Kaltim) menyoroti kasus siswa yang diduga mengalami kondisi fatal setelah mengalami masalah kesehatan yang dikaitkan dengan penggunaan sepatu kekecilan.

Pemerintah daerah menilai persoalan tersebut tidak bisa dilihat secara sederhana, karena penyebab utama tetap berkaitan dengan kondisi medis.

Plt Kepala Disdikbud Kaltim Armin menilai narasi yang berkembang perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di masyarakat.

“Sepatunya kekecilan, gara-gara sepatu kekecilan meninggal. Masa sih gara-gara sepatu meninggal, kan meninggalnya karena infeksi,” ujarnya usai menghadiri Sarasehan Pendidikan di Hotel Fugo Samarinda, Sabtu 2 Mei 2026.

Menurut Armin, jika memang ada masalah perlengkapan sekolah, seharusnya hal tersebut dapat disampaikan lebih awal kepada pihak sekolah maupun pemerintah daerah agar segera ditangani.

“Kalau memang dia sepatunya kekecilan, mestinya disampaikan ke sekolah, ke orang tua. Kan ada dana PIP, ada Bosda, ada Bosnas,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah memiliki berbagai skema bantuan yang bisa dimanfaatkan untuk membantu siswa kurang mampu, terutama jika jumlahnya hanya satu atau dua orang di satuan pendidikan.

“Kalau hanya satu dua anak, mestinya bisa kita bantu. Saya pun siap membantu kalau dia datang, bilang anaknya tidak bisa sekolah karena tidak punya sepatu,” ucapnya.

Armin menyayangkan jika ada siswa di Kaltim yang tidak dapat mengikuti kegiatan belajar hanya karena keterbatasan perlengkapan dasar seperti sepatu atau seragam.

“Sangat kita sesalkan kalau ada anak hanya gara-gara sepatu tidak sekolah. Kita bantu kok,” katanya.

Ia juga meminta sekolah lebih proaktif dalam mengetahui kondisi siswa, termasuk latar belakang ekonomi dan kebutuhan dasar mereka. Peran guru bimbingan konseling (BK) dan wali kelas dinilai penting dalam mendeteksi persoalan tersebut sejak awal.

“Sekolah harus betul-betul mencari tahu kondisi anak. Itu tugas guru BK dan wali kelas, tahu tidak kondisi setiap anak,” ujarnya.

Selain itu, Armin menekankan pentingnya menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman dan terbuka bagi siswa untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi.

“Sekolah harus jadi second home bagi anak. Harus nyaman, bisa curhat ke gurunya atau sekolahnya,” katanya.

Jika komunikasi di tingkat sekolah tidak berjalan, ia meminta agar orang tua atau siswa dapat langsung menyampaikan kondisi tersebut ke dinas pendidikan.

“Kalau tidak bisa curhat ke sekolah, curhat ke dinas. Kita bantu,” ucapnya.

Ke depan, Disdikbud Kaltim menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap pola komunikasi dan pendataan kondisi siswa di sekolah, agar kasus serupa tidak terulang.

Related posts

Antusias Siswa, MMS Tetap Mengajar di Tengah Pandemi

natmed

Unmul Dapat Dukungan Rp6,5 Triliun dari Rencana Strategis Nasional

Aminah

Informatika Bukan Sekadar Koding, Tapi Tentang Moral dan Tanggung Jawab Sosial

Sahal