Samarinda, Natmed.id – Pada kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) 2026 yang diinisiasi oleh UKM Jurnalistik Polnes, Wartawan Infosatu.co Dhita Apriliani menegaskan bahwa menjadi seorang jurnalis bukan sekadar soal kemahiran merangkai kata atau teknis menulis berita.
Lebih dari itu, jurnalisme adalah sebuah komitmen moral untuk menjaga pilar demokrasi dan menyajikan kebenaran bagi masyarakat.
Dhita, yang juga merupakan alumni dari organisasi penyelenggara, mengaku merasa terhormat dapat kembali berbagi pengalaman di lapangan kepada para peserta.
“Dulu saya datang sebagai peserta, panitia, bahkan penanggung jawab, dan sekarang datang sebagai pemateri. Tentu tanggung jawabnya berbeda karena saya ingin sebisa mungkin berbagi ilmu jurnalisme yang saya punya,” ujar Dhita saat diwawancarai pada Minggu 12 April 2026
Dalam materinya, Dhita menonjolkan sisi filosofi jurnalistik, terutama mengenai perbedaan mendasar antara jurnalis dan influencer di era digital. Menurutnya, meski keduanya sama-sama mengunggah konten di media sosial, jalur yang ditempuh sangat berbeda.
“Jurnalis itu bekerja untuk mengungkap fakta dan terikat dengan kode etik serta disiplin verifikasi. Sedangkan influencer biasanya terikat pada algoritma, branding dan engagement,” jelas Dhita.
Ia menambahkan bahwa jurnalis memiliki fungsi sosial sebagai pengawas dan penyeimbang dalam tatanan demokrasi.
“Jurnalis itu pilar keempat demokrasi, pengawas di luar trias politika. Kita mengawasi legislatif, eksekutif, dan yudikatif agar tetap menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Begitu juga wartawan kampus, mereka harus bisa mengawasi birokrasi di kampus dan menjadi perpanjangan tangan mahasiswa ke birokrasi, maupun sebaliknya,” tambahnya.
Dhita juga mengingatkan para peserta agar tidak mencampurkan opini pribadi ke dalam produk jurnalistik. Baginya, objektivitas adalah harga mati untuk menjaga integritas berita.
“Jurnalistik bukan cuma teknik menulis, tapi pencarian kebenaran berlandaskan moral. Kita tidak bisa mencampurkan opini atau persepsi pribadi dalam tulisan. Kalau dicampur, namanya tidak berimbang lagi. Pesannya bisa jadi beda dan substansi pemberitaannya berubah,” tegasnya.
Selama pelatihan, para peserta tidak hanya mendapatkan teori mengenai rumus 5W + 1H, teknik wawancara, dan Undang-Undang Pers, tetapi juga langsung melakukan praktik lapangan dan tinjauan atau reviu berita bersama. Dhita mengaku terkesan dengan antusiasme para jurnalis muda tersebut.
“Mereka sangat memperhatikan, mencatat, dan saat sesi tanya jawab juga sangat excited. Bahkan setelah acara selesai, masih ada yang bertanya hal-hal yang belum sempat tersampaikan karena keterbatasan waktu. Secara umum, mereka sudah punya dasar yang bagus untuk menghasilkan berita,” ungkapnya.
Dhita berharap UKM Jurnalistik Polnes dapat terus menjadi wadah yang jujur dalam memberikan informasi kepada publik kampus.
“Harapannya untuk teman-teman kampus, semoga bisa terus menjalankan fungsi jurnalisme secara jujur. Tetap jaga kode etik dan UU Pers,” pungkasnya.
