Samarinda, Natmed.id – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Samarinda mencatatkan performa positif dalam pemungutan pendapatan asli daerah (PAD) pada awal tahun anggaran 2026.
Hingga penutupan triwulan I, PAD Samarinda berhasil melampaui target minimal yang ditetapkan. Hal ini didorong oleh tingginya aktivitas konsumsi masyarakat di sektor kuliner.
Kepala Bapenda Kota Samarinda Cahya Ernawan memaparkan bahwa secara akumulatif, total PAD yang berhasil dihimpun telah menyentuh angka signifikan sebagai modal awal pembangunan kota di tahun ini.
“Alhamdulillah, dari target PAD kita yang sebesar Rp1,4 triliun tahun ini, pada triwulan pertama saja kita sudah berhasil merealisasikan sebesar Rp212,4 miliar. Secara persentase, ini menyentuh 15,14 persen,” ungkap Cahya pada penyampaian singkatnya di depan awak media pada Jumat, 10 April 2026.
Jika dibedah lebih dalam, sektor Pajak Daerah menjadi bintang utama dalam laporan capaian kali ini. Pertumbuhannya dinilai sangat sehat karena sudah melewati angka 20 persen hanya dalam tiga bulan pertama.
“Kalau kita lihat hanya di sektor Pajak Daerah, capaiannya luar biasa. Dari target Rp920,5 miliar, kita sudah mengantongi Rp185,05 miliar atau sekitar 20,1 persen. Ini menunjukkan bahwa mesin pajak kita bekerja sangat efektif di awal tahun,” jelasnya.
Kendati demikian, Cahya memberikan catatan kritis pada sektor Retribusi Daerah yang realisasinya masih tergolong rendah, yakni baru mencapai 4,43 persen atau setara Rp17,9 miliar dari target tahunan sebesar Rp403 miliar.
“Retribusi ini memang tantangan tersendiri karena pengelolaannya tersebar di OPD-OPD teknis. Seperti retribusi parkir di Dinas Perhubungan atau retribusi pasar. Angka 4,43 persen ini tentu menjadi bahan evaluasi kami untuk berkoordinasi lebih intens dengan OPD terkait agar ada percepatan di triwulan kedua,” tegas Cahya.
Salah satu poin menarik dalam laporan Bapenda adalah dominasi Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT), khususnya pada kategori makan dan minum. Sektor ini terbukti menjadi penyumbang terbesar yang menjaga stabilitas kas daerah.
“Kontribusi tertinggi saat ini berasal dari PBJT makan-minum atau yang dulu kita kenal pajak restoran/kafe. Nilainya mencapai Rp40,09 miliar. Jika kita akumulasikan seluruh komponen PBJT, termasuk tenaga listrik dan hiburan, totalnya mencapai Rp104,9 miliar. Itu artinya, hampir 56 persen dari total pajak daerah kita disumbang oleh sektor ini,” urai Cahya.
Ia menambahkan dengan nada santai bahwa tren gaya hidup masyarakat Samarinda yang gemar nongkrong dan makan di luar memberikan dampak instan pada pembangunan kota.
“Untungnya masyarakat kita, terutama anak-anak muda, rajin makan di warung atau kafe. Habis makan di satu tempat, pindah lagi ke tempat lain. Kontribusi kecil dari setiap porsi makanan itulah yang menjadi kekuatan besar bagi kas daerah kita,” katanya.
Meski secara umum meningkat, Cahya tidak menampik adanya penurunan di sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Menanggapi hal tersebut, pihaknya telah menyiapkan langkah taktis.
“PBB memang sedikit melambat di triwulan ini. Oleh karena itu, di triwulan kedua kami langsung tancap gas dengan mengeluarkan kebijakan insentif berupa diskon PBB. Kami harap stimulus ini bisa merangsang masyarakat untuk segera melunasi kewajibannya lebih awal,” tuturnya.
Sementara untuk BPHTB, penurunan dinilai lebih karena faktor musiman dan psikologi pasar menjelang hari besar keagamaan.
“Untuk BPHTB, trennya memang turun karena orang cenderung menahan transaksi properti menjelang Lebaran. Uangnya lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan hari raya. Kami akan terus pantau, jika di triwulan kedua trennya belum pulih, bukan tidak mungkin kami akan siapkan skema insentif serupa seperti PBB,” tambah Cahya.
Cahya Ernawan menekankan bahwa Bapenda akan terus melakukan pengawasan ketat dan inovasi layanan agar target bertahap hingga akhir tahun dapat tercapai sesuai rencana pembangunan jangka menengah daerah.
“Kami punya target berjenjang, 15 persen di triwulan satu, 40 persen di triwulan kedua, 75 persen di triwulan ketiga, dan harus tuntas 100 persen di akhir tahun. Dengan melihat geliat ekonomi pasca-Lebaran dan mulai dibukanya sentra-sentra ekonomi baru, kami sangat optimis target 1,4 triliun rupiah ini bisa kita amankan,” pungkasnya optimis.
