Samarinda

Insinerator Samarinda Ditargetkan Bakar 80–100 Ton Sampah, Saat Ini Baru 4 Ton per Mesin

Teks: Tampilan Mesin Insinerator yang Ditargetkan Mampu Mengolah Hingga 8–10 Ton Sampah Per Hari, Jumat,10/4/26. (Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Upaya pengolahan sampah melalui teknologi insinerator di Kota Samarinda mulai dijalankan secara bertahap. Pemerintah menargetkan kapasitas pembakaran dapat mencapai 80 hingga 100 ton sampah per hari, seiring dengan beroperasinya seluruh unit yang telah disiapkan di sejumlah titik.

Kepala Pengawas Insinerator DLH Samarinda Mustofa menyebutkan saat ini terdapat sembilan titik dengan total 10 mesin insinerator yang direncanakan beroperasi. Namun, implementasi di lapangan masih berada pada tahap uji coba dan penyesuaian teknis.

“Kalau semua insinerator berjalan lancar, kapasitasnya bisa 80 sampai 100 ton per hari. Tapi sekarang masih uji coba, satu mesin baru sekitar 4 ton,” ujarnya.

Capaian tersebut masih berada di bawah kapasitas ideal yang ditargetkan, yakni sekitar 8 hingga 10 ton per mesin per hari. Meski demikian, DLH menilai kondisi ini merupakan bagian dari proses awal sebelum operasional berjalan optimal.

Sejumlah faktor teknis masih terus dipelajari, terutama terkait pola pembakaran yang efektif agar suhu dan proses pembakaran dapat stabil dalam waktu operasional yang relatif terbatas.

“Ini masih tahap belajar. Kita masih mencari pola pembakaran yang paling pas supaya hasilnya maksimal,” katanya.

Kondisi dan jenis sampah yang masuk ke dalam mesin turut memengaruhi proses pembakaran. Sampah yang telah dipilah, terutama antara jenis basah dan kering, cenderung lebih mudah diolah dibandingkan sampah yang masih tercampur.

“Kalau dari awal sudah dipilah, pembakarannya lebih bagus. Tapi kalau masih campur, biasanya butuh penyesuaian lagi supaya bisa terbakar dengan baik,” jelasnya.

Dalam tahap uji coba saat ini, suplai sampah yang diolah masih terbatas dan umumnya berasal dari satu tempat pembuangan sementara (TPS) terdekat. Dari satu TPS, volume sampah yang diangkut bisa mencapai empat hingga enam truk per hari, baik menggunakan arm roll maupun dump truck.

Namun, tidak seluruh volume tersebut langsung diolah oleh insinerator karena kapasitas mesin yang masih dalam tahap penyesuaian.

“Untuk sementara kita ambil dari TPS terdekat dulu. Belum semua bisa kita bakar karena kapasitasnya masih kita sesuaikan,” ujarnya.

Dari sisi hasil pembakaran, residu yang dihasilkan dinilai relatif kecil. Abu sisa pembakaran diperkirakan hanya sekitar 8 hingga 10 persen dari total sampah yang dibakar.

“Abunya tidak banyak, sekitar 8 sampai 10 persen. Untuk plastik bahkan hampir tidak ada sisa,” kata Mustofa.

Ia menambahkan, jenis sampah tertentu seperti material kayu atau sisa bangunan masih menyisakan residu, namun dalam jumlah yang tidak signifikan dan tidak terkonsentrasi.

Sementara itu, terkait emisi, DLH Samarinda masih menunggu hasil uji dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk memastikan tingkat keamanan asap yang dihasilkan. Pada tahap uji coba, asap masih terlihat, namun hal tersebut dinilai sebagai bagian dari proses awal pengoperasian.

“Kita masih menunggu uji dari KLH. Karena ini masih tahap awal, asap kadang masih ada. Mudah-mudahan ke depan bisa semakin minim,” ujarnya.

Menurutnya, tingkat emisi sangat bergantung pada kesempurnaan proses pembakaran. Semakin stabil suhu dan metode pembakaran, semakin kecil potensi asap yang dihasilkan.

“Kalau pembakarannya sudah sempurna, biasanya asap juga ikut berkurang. Sekarang ini kita masih proses menuju ke sana,” jelasnya.

DLH menilai, keberhasilan pengoperasian insinerator tidak hanya ditentukan oleh kesiapan mesin, tetapi juga dukungan dari sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan. Mulai dari pemilahan di tingkat masyarakat hingga pengangkutan dari TPS menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas teknologi ini.

Related posts

Dapur MBG Muhammadiyah Layani 1.106 Porsi Selama Ramadan, Menu Kering Jadi Pilihan

Aminah

Tolak RUU Penyiaran, Koalisi Kemerdekaan Pers Gelar Aksi di Depan Kantor DPRD Kaltim

natmed

Petugas Kebersihan Libur Selama Lebaran, Dilarang Buang Sampah

natmed