Samarinda, Natmed.id – Pemerintah Kota Samarinda di bawah kepemimpinan Wali Kota Andi Harun tengah menyiapkan terobosan besar dalam ekosistem pengelolaan sampah perkotaan.
Tidak hanya fokus pada pemusnahan sampah melalui teknologi insinerator modern, Samarinda kini melangkah lebih jauh dengan menyusun strategi hilirisasi untuk mengolah sisa hasil pembakaran (residu) menjadi material bangunan bernilai guna.
Langkah inovatif ini dirancang untuk memastikan bahwa rantai pengelolaan sampah di Samarinda berakhir dengan kemanfaatan ekonomi, sekaligus menekan volume buangan akhir secara drastis.
Pembangunan 10 unit Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang dilengkapi insinerator ramah lingkungan bukan sekadar proyek pembakaran sampah biasa.
Setiap proses pembakaran akan menghasilkan residu yang kini telah dipetakan potensinya sebagai bahan baku industri konstruksi.
Wali Kota Andi Harun memaparkan rencana ambisius mengenai diversifikasi produk yang akan dihasilkan dari pengolahan residu tersebut.
“Hasil residunya, sisa pembakaran itu, kita akan olah menjadi paving block, menjadi batako ringan, bahkan bisa menjadi plafon,” tegas Andi Harun dalam sesi wawancara pada Kamis, 26 Maret 2026.
Dengan mentransformasi abu sisa pembakaran menjadi material padat seperti batako dan paving block, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berhasil memutus ketergantungan pada lahan TPA Sambutan yang kapasitasnya semakin terbatas.
Salah satu pilar utama dalam kebijakan ini adalah konsep dari kota, oleh kota, dan untuk kota. Hasil produksi material bangunan dari residu sampah ini direncanakan tidak untuk dikomersialkan secara bebas pada tahap awal, melainkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan internal pemerintah.
Strategi ini dipandang sebagai langkah cerdas dalam menjaga kesehatan fiskal daerah melalui penghematan biaya pengadaan material proyek fisik.
“Hasil olahannya nanti, paving block-nya, batako ringannya, plafonnya, itu kita pakai sendiri untuk keperluan-keperluan infrastruktur pemerintah,” jelasnya.
Dengan menggunakan material hasil olahan sendiri, Samarinda mampu menjalankan program pembangunan infrastruktur dengan biaya yang lebih efisien sembari menyelesaikan masalah lingkungan secara simultan.
Visi Andi Harun dalam pengelolaan sampah tidak berhenti pada produksi material konstruksi. Ia mengungkapkan bahwa Samarinda kini menjadi magnet bagi berbagai investor teknologi pengolahan limbah, baik dari dalam maupun luar negeri.
Pemerintah Kota Samarinda saat ini sedang melakukan studi mendalam terhadap berbagai tawaran teknologi tingkat tinggi yang dapat mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan produksi energi terbarukan.
“Banyak tawaran masuk ke kita, ada yang dari Malaysia, ada yang dari dalam negeri, mau mengolah sampah menjadi listrik, ada yang mau mengolah melalui sistem hidrolisis menjadi pupuk atau bahan baku lainnya,” ungkapnya.
Meskipun peluang kerja sama terbuka lebar, Andi Harun memberikan catatan tegas terkait prinsip tata kelola keuangan yang sehat.
Dia menekankan bahwa setiap skema investasi harus bersifat murni bisnis (B2B) tanpa membebani APBD sebagai penjamin, guna memastikan keberlanjutan ekonomi daerah di masa depan.
