Ekonomi

Berau Cari Jalan Keluar dari Ketergantungan Tambang, Pariwisata Dinilai Masih Setengah Jalan

Teks: Ketua DPRD Kabupaten Berau Dedy Okto Nooryanto (Natmed.id/Tangkapan Layar)

Samarinda, Natmed.id – Kabupaten Berau mulai memikirkan masa depan ekonomi daerah di tengah kekhawatiran menurunnya kontribusi sektor tambang dalam satu hingga dua dekade ke depan.

Ketua DPRD Kabupaten Berau Dedy Okto Nooryanto menilai pariwisata menjadi salah satu sektor yang diproyeksikan menggantikan dominasi industri ekstraktif yang selama ini menopang perekonomian lokal.

Namun, transisi ekonomi itu dinilai belum siap secara struktural. Meski Berau dikenal sebagai salah satu gerbang wisata bahari Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Pulau Maratua, kesiapan infrastruktur dasar hingga tata kelola pariwisata masih menjadi persoalan utama.

Dedi menyebut, akses transportasi menuju destinasi unggulan seperti Maratua masih terbatas, baik melalui jalur udara maupun laut. Ia juga menyoroti minimnya jaringan internet di kawasan wisata yang berdampak pada promosi digital dan aktivitas ekonomi pelaku UMKM.

“Pariwisata tidak bisa hanya dijual dari keindahan alam. Infrastruktur dasar juga harus siap,” ujarnya dalam siaran langsung bincang wisata, Sabtu 7 Februari 2026.

Data Badan Pusat Statistik 2025 menunjukkan sektor pariwisata di Kaltim memang mulai tumbuh, ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara. Namun, kontribusinya terhadap perekonomian daerah masih relatif kecil dibanding sektor pertambangan dan industri ekstraktif.

Kondisi ini memperlihatkan tantangan besar dalam menggeser struktur ekonomi daerah. Selain infrastruktur, Dedi mengingatkan risiko ketimpangan manfaat ekonomi jika pariwisata hanya dikuasai investor besar dan resort-resort eksklusif. Tanpa kebijakan afirmatif, masyarakat lokal dikhawatirkan hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri.

“Jangan sampai wisata berkembang tapi warga hanya jadi penonton. Harus ada ruang jualan produk lokal, pelatihan dan ekosistem bisnis yang jelas,” katanya.

Ia mendorong pemerintah daerah menyediakan pelatihan bagi masyarakat, ruang pemasaran produk UMKM, serta pusat penjualan terpadu agar dampak ekonomi pariwisata bisa dirasakan langsung oleh warga. Menurutnya, konsep tersebut sudah diterapkan di sejumlah destinasi wisata nasional seperti Bali.

Selain wisata bahari, Berau juga memiliki potensi wisata berbasis pertanian, terutama kakao dan kelapa. Konsep wisata edukasi pertanian dinilai bisa meningkatkan nilai tambah produk sekaligus diversifikasi ekonomi desa. Namun, sektor ini menghadapi tantangan klasik berupa kualitas bibit, keterampilan petani, hingga akses pasar.

“Wisata pertanian itu peluang besar. Orang bisa belajar tanam kakao, olah kelapa, sekaligus beli produknya. Ini ekonomi yang berputar di desa,” ucapnya.

Di sisi lain, pengembangan pariwisata juga menghadapi risiko lingkungan dan sosial. Pariwisata pesisir rentan terhadap tekanan ekologi, konflik pemanfaatan ruang, hingga dampak perubahan iklim, sehingga membutuhkan perencanaan jangka panjang dan kebijakan berkelanjutan.

Dedy menilai transisi ekonomi Berau dari tambang ke pariwisata tidak bisa dilakukan secara instan. Ia menekankan perlunya regulasi yang jelas, perencanaan jangka panjang, serta pengawasan anggaran agar sektor pariwisata tidak sekadar menjadi slogan pembangunan.

“Kalau tidak disiapkan dari sekarang, kita hanya pindah ketergantungan, bukan membangun ekonomi yang mandiri,” imbuhnya.

Related posts

“All Together in Diversity”, Bukti Produk UMKM Kaltim Naik Kelas

ericka

Pemprov Kaltim Buka Peluang Usaha Lokal Kelola Hulu Migas

Aminah

Tekanan Harga Pangan Naik, Kaltim Tetap Raih Inflasi Tahunan Terendah

Aminah