Samarinda, Natmed.id – Dunia medis di Kota Samarinda dikejutkan dengan pencapaian Klinik Sutarman yang berlokasi di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Pelabuhan.
Klinik yang dulunya hanya berupa praktik mandiri ini, kini resmi menyabet predikat sebagai klinik gigi pertama di Samarinda yang meraih Akreditasi Paripurna.
Di balik kesuksesan tersebut, terselip kisah sang pemilik Eni Sutarman yang harus banting stir dari ibu rumah tangga menjadi pengusaha tangguh.
Perjalanan ini bermula dari duka mendalam pada tahun 2021 saat suaminya, drg Sutarman berpulang. Eni, yang selama puluhan tahun mengaku sebagai ibu rumah tangga tiur murni yang fokus mengurus suami dan anak selama 24 jam, tiba-tiba dihadapkan pada pilihan sulit, membiarkan warisan suaminya redup atau mengambil alih kendali sebagai single fighter.
“Percaya diri adalah kuncinya, saya dulu murni ibu rumah tangga. Tapi ketika semuanya beralih fungsi, saya harus jadi single fighter. Dalam membuka klinik ini, saya tidak punya skenario gagal, tidak ada yang ada itu harus bisa,” tegas Eni Sutarman saat diwawancarai wartawan, Sabtu 28 Februari 2026.
Langkah Eni membuka Klinik Sutarman Dental Care pada Maret 2022 bukan tanpa risiko. Saat itu, ia memikul beban berat membiayai tiga anak yang tengah menempuh pendidikan tinggi. Anak pertama di FKG UMY semester 7, anak kedua baru masuk Kedokteran Umum semester 1, dan anak ketiga masih SMA kelas 1.
Meski tidak memiliki latar belakang medis ia merupakan lulusan Ekonomi Akuntansi. Eni memanfaatkan insting manajerialnya. Ia mengubah praktik pribadi almarhum suaminya menjadi institusi medis profesional dengan manajemen modern.
“Basic saya memang di Samarinda, dulu ini klinik pribadi drg Sutarman, kemudian saya buka namanya Klinik Sutarman Dental Care yang sekarang berkembang ke klinik kecantikan di lantai dua,” tambahnya.
Klinik Sutarman tidak main-main dalam kualitas. Di tengah menjamurnya klinik ilegal atau tidak terstandar, Eni memastikan kliniknya menjadi pelopor kepatuhan regulasi. Keberhasilan meraih Akreditasi Paripurna menjadi bukti nyata.
“Persoalannya memang tidak mudah, tapi saya memastikan lingkungan saya sangat ramah perempuan dan anak. Dokter-dokter kita kalau punya anak kecil boleh dibawa, kita saling support di dalam. Jika internal solid, gempuran dari luar pun bisa kita atasi,” jelas Eni yang Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Samarinda.
Eni juga menekankan pentingnya sinergi dengan Dinas Kesehatan sebagai pembimbing utama. Ia mengaku sangat terbuka untuk berinteraksi dengan regulator demi menjaga standar pelayanan.
Di sisi lain, untuk menghadapi tantangan bisnis digital, Eni telah membentuk tim kreatif dan media sosial yang andal untuk mengelola branding Klinik Sutarman dan unit estetiknya secara profesional.
