Samarinda, Natmed.id – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Samarinda mengambil peran vital dalam menjaga stabilitas kesehatan selama aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor DPRD hari ini.
Koordinator Lapangan (Korlap) Pelayanan Ambulans PMI Kota Samarinda Suntoro memimpin langsung operasi lapangan guna memastikan setiap peserta aksi maupun aparat yang membutuhkan bantuan medis mendapatkan penanganan cepat.
Suntoro menekankan bahwa dalam situasi massa yang memanas, netralitas adalah harga mati bagi personel PMI. Hal ini tercermin dari penempatan armada dan personel yang telah diperhitungkan secara matang agar tidak mengganggu jalannya aksi namun tetap responsif.
“Kami posisikan di sini, kami tidak terlalu mendekat ke dalam karena kami punya SOP. Kami tidak diizinkan lebih rapat sehingga tidak terkesan bahwa kami adalah bagian dari itu (massa aksi). Keberadaan kami murni untuk kemanusiaan,” tegas Suntoro saat saat memberikan keterangan pers pada Selasa, 21 April 2026.
Pengerahan personel dilakukan secara bertahap mengikuti eskalasi jumlah massa. Sejak pagi, tim kecil telah bersiaga untuk memantau situasi awal, yang kemudian dipertebal saat memasuki waktu siang dan sore hari ketika konsentrasi massa mencapai puncaknya.
Pada sesi pagi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kaltim, awalnya disiagakan 4 orang personel BKO dengan dukungan 1 unit ambulans untuk pemantauan dini.
Kemudian, total kekuatan pada siang hari berkembang menjadi 2 unit ambulans dengan total sekitar 15 personel yang menyisir area sekitar gedung parlemen.
Lalu, menjelang sore di puncak aksi, PMI menambah kekuatan secara signifikan dengan menyiagakan 30 personel tambahan yang didukung oleh 3 unit ambulans utama.
Suntoro menjelaskan bahwa penambahan ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi gesekan atau kelelahan massal saat matahari sedang terik.
Ada perbedaan mendasar dalam prosedur operasional yang dijalankan PMI dibandingkan dengan unit relawan lainnya.
Suntoro menjelaskan bahwa timnya memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan medis darurat di lokasi (on-site) guna mencegah penumpukan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit jika memang tidak diperlukan.
“Ini perbedaan antara kami dengan teman-teman relawan yang lain. Kalau kami tidak akan rujuk ke rumah sakit kalau tidak bermasalah atau tidak terlalu parah, tapi kita lakukan tindakan di tempat. Kita evaluasi dulu kondisinya secara mendalam,” jelasnya.
Hingga sore hari sebelum puncak aksi, tercatat ada lima orang yang harus mendapatkan perawatan di dalam ambulans PMI. Mayoritas keluhan disebabkan oleh faktor fisik akibat cuaca panas dan durasi aksi yang panjang.
“Kondisi seperti ini dominan adalah orang keletihan. Artinya kekurangan oksigen, sehingga paling ya harus istirahat, diberi situasi yang dingin, nyaman, aman. Itu sudah sangat membantu untuk memulihkan kesadarannya,” tambah Suntoro secara rinci.
PMI Samarinda tetap bertahan di lokasi hingga massa membubarkan diri sepenuhnya atau hingga instruksi lebih lanjut dari pihak keamanan pusat, guna memastikan tidak ada peserta aksi yang tertinggal dalam kondisi medis yang membutuhkan bantuan.
