Ada satu hal yang nyaris selalu hilang dari percakapan tentang “sukses” yaitu kesadaran bahwa setiap capaian manusia bukan hanya hasil dari kemampuan individual, tetapi juga hasil dari disiplin panjang, struktur sosial, kesempatan historis, dan kekuatan mental yang terlatih.
Dalam forum Ngobrol Inspirasi yang digelar Media Sukri Indonesia (MSI) Group, pada Jum’at 12 Desember 2025. Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kaltim Nidya Listiyono mengingatkan bahwa capaian apa pun tidak pernah datang dari keajaiban yang jatuh dari langit. Ia datang dari perjalanan yang penuh luka, keringat, dan keputusan-keputusan yang tidak nyaman.

Banyak orang sibuk mengejar kesuksesan kilat, tetapi lupa bahwa setiap jalan ke puncak selalu ditopang oleh pijakan-pijakan kecil yang terasa remeh, bangun lebih pagi, memikul beban sendiri, berani kotor, berani ditolak.
Nidya tidak menyembunyikan masa lalunya yang jualan sejak SD dan SMP, menjadi ball boy tenis demi beberapa ribu rupiah, menjual koran setelah lulus kuliah, bekerja dari bawah sebagai marketing yang harus menggesek nomor mesin kendaraan. Semuanya diceritakan tanpa kesan heroik, seolah ia ingin mengatakan “Hei, ini bukan kisah luar biasa. Ini hal biasa yang harusnya dilakukan banyak orang.” namun justru di situlah letak luar biasanya.
Indonesia sering memuja prestasi, tapi jarang menghargai proses, jarang bertanya dari mana mereka memulai? Ketika seseorang seperti Nidya berdiri di posisi strategis sebagai Direktur Utama Perusda BKS, dan mantan anggota DPRD Kaltim 2019-2024, yang sering kita lihat hanya hasil akhirnya.
Yang terlupakan adalah lari mengejar peluang yang tak datang dua kali, dan kerja-kerja kotor yang biasanya dihindari mereka yang merasa lulusan S1 harusnya memulai hidup dari lantai dua. Padahal hidup tidak pernah berkomitmen memberi kemewahan pada orang hanya karena mereka punya gelar.
Nidya mengingatkan satu hal yang sering kita abaikan, kerja keras itu perlakuan terhadap diri sendiri, saat anda digaji dua juta tapi bekerja seolah digaji lima juta, katanya jangan takut rugi. Tidak semua balasan dibayar dengan uang sebagian dibayar dalam kesehatan, rumah tangga yang harmonis, pintu rezeki yang terbuka entah dari mana.

Logika ini sederhana, tetapi kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih rajin menghitung waktu lembur daripada menghitung nikmat yang sudah diterima.
Di titik tertentu, ceritanya berbelok ke wilayah yang lebih filosofis. Tentang peluang yang seperti lalat tukar akal datang tiba-tiba, hilang tiba-tiba. Tentang telepon bisnis yang tidak boleh diabaikan, tentang Tuhan yang membalas perilaku manusia dengan kecepatan yang kini katanya secepat pesan WhatsApp. Kita berbuat baik pagi hari, siangnya sudah ada balasan. Kita malas atau curang hari ini, sorenya ada ban bocor atau ponsel rusak, bukan sebagai kutukan, tetapi sebagai pengingat.
Dalam psikologi modern, ada konsep cause and effect, biasanya manusia cenderung mencari pola atas kejadian-kejadian kecil. Tapi dalam konteks nilai, Nidya memberi tafsir lain bukan soal karma instan, tapi soal kesadaran. Bahwa hidup selalu mengajarkan, dengan caranya sendiri, konsistensi dari apa yang kita tanamkan.
Lalu seperti orang yang ingin memastikan bahwa ruangan itu tidak hanya berisi pendengar pasif, ia menegaskan satu hal yang tampak sederhana tapi sebenarnya fundamental yaitu mimpi.
Tanpa mimpi katanya orang hanya akan hidup seperti air yang mengalir mengikuti gravitasi naik-turun, keruh-jernih, tergantung di mana ia jatuh. Banyak anak muda hari ini pintar, cerdas, paham teknologi, jago membuat konten. Tapi tak sedikit dari mereka yang berjalan tanpa tujuan, berputar-putar dalam lingkaran nyaman, nongkrong, main game, tidur larut, bangun siang, dan berharap rezeki datang mengetuk pintu. Padahal dunia tidak bergerak dengan cara seperti itu.
Di sinilah relevansi kisah Nidya sesungguhnya, ia mengajarkan bahwa keberhasilan bukan soal keberuntungan, bukan soal modal besar, bukan soal koneksi kuat. Keberhasilan adalah kombinasi kerja keras, keberanian mengambil risiko, dan kecerdikan membaca peluang. Bahkan bisnis tanpa modal pun menurutnya bukan mustahil, kalau akal dipakai sebuah pelajaran yang juga ia dapat dari Entrepreneur University, dari para mentor bisnis yang mengajarinya bahwa otak adalah aset paling mahal yang kita miliki.
Mungkin, dalam suasana sosial kita yang penuh kemalasan, cerita semacam ini adalah antitesis yang kita butuhkan bahwa kesuksesan bukan hadiah yang dijatuhkan dari langit, tapi sesuatu yang harus dibayar dengan waktu, tenaga, ketekunan, dan kemampuan untuk tetap rendah hati meski pernah berada di titik paling rendah.
“Jangan pernah pesimis dengan diri Anda, yang tidak mungkin hanyalah mengubah kitab suci. Selebihnya, semua masih mungkin,” pesannya.
Di zaman ketika banyak orang ingin jalan pintas, barangkali kita butuh lebih banyak suara seperti ini suara yang mengingatkan bahwa jalan panjang, jalan berliku, dan jalan yang membuat kita kotor adalah jalan yang justru membawa kita pada versi terbaik diri kita sendiri.
