Samarinda

Suka Duka Ramadan di Perantauan, Mahasiswi UINSI Samarinda Petik Pelajaran Mandiri dan Empati

Teks: Mahasiswi UINSI Samarinda Yang Merantau Dari Balikpapan, Sinthia Widhi Zahidah (Foto Shintia WZ)

Samarinda, Natmed.id – Menjalani ibadah di bulan suci Ramadan jauh dari hangatnya pelukan keluarga merupakan fase pendewasaan yang nyata bagi para mahasiswa perantau. Kota Samarinda, sebagai pusat pendidikan di Kalimantan Timur, menjadi saksi bisu perjuangan ribuan mahasiswa yang harus rela sahur dan berbuka di kamar kos yang sederhana.

Salah satu kisah datang dari Sinthia Widhi Zahidah, mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda.

Merantau dari Balikpapan ke Samarinda memberikan dinamika spiritual dan emosional yang berbeda bagi Sinthia, terutama saat memasuki bulan penuh ampunan ini.

Bagi Sinthia, tantangan terberat Ramadan di perantauan bukanlah menahan lapar di bawah teriknya matahari Kota Tepian, melainkan melawan rasa malas yang sering kali menghampiri akibat suasana yang sepi.

“Yang paling berat itu sebenarnya rasa malas. Kalau di rumah kan ada temannya, ada yang menyiapkan segalanya. Mulai dari sahur sampai buka puasa itu sudah tersedia dan makannya pun bareng-bareng. Sedangkan di perantauan, apa-apa harus sendiri. Rasa jenuh dan malas itu sering muncul karena tidak ada riuhnya suasana rumah,” ungkap Sinthia saat diwawancarai secara daring, Kamis, 19 Februari 2026.

Kerinduan terhadap keluarga inti menjadi bumbu yang tak terelakkan. Momen kebersamaan saat membantu sang ibu menyiapkan hidangan takjil di dapur adalah memori yang paling memicu rasa rindu kampung halaman (homesick) bagi mahasiswi asal Kota Minyak tersebut.

Meskipun disibukkan dengan deretan tugas kuliah yang menumpuk, Sinthia mengaku bersyukur karena lingkungan kampus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tetap fokus beribadah.
Kebijakan kampus yang menyesuaikan jam operasional sangat membantu para perantau mengelola waktu mereka.

“Alhamdulillah di bulan Ramadan ini banyak kegiatan yang waktunya menyesuaikan. Jam masuk dan pulang kuliah dipersingkat, jadi kami masih punya banyak waktu luang untuk fokus beribadah tanpa terganggu beban akademik yang berlebihan,” jelasnya.

Ramadan di perantauan nyatanya tidak hanya tentang kesendirian. Bagi Sinthia, ini adalah momen untuk menemukan keluarga baru.

Kehadiran teman-teman sesama perantau menjadi obat mujarab yang mengobati rasa rindu ke rumah. Di sinilah nilai kemandirian dan usaha benar-benar diuji.

Lebih jauh, Ramadan juga membentuk cara pandang dan empati Sinthia sebagai seorang mahasiswa. Ia mengaku terinspirasi oleh kegigihan orang-orang di sekitarnya dalam menyambut bulan suci ini.

“Saya melihat banyak sekali orang yang walaupun di tengah kesibukan, keterpurukan, bahkan kesedihan karena urusan duniawi, mereka tetap menyempatkan diri menyambut Ramadan dengan penuh suka cita. Hal itu benar-benar membuka mata dan membentuk empati dalam diri saya,” tutupnya.

Kisah Sinthia hanyalah satu dari sekian banyak potret perjuangan mahasiswa perantau di Samarinda. Ramadan bagi mereka bukan sekadar ritual ibadah, melainkan ruang untuk menempa kemandirian dan memperluas sudut pandang kemanusiaan.

Related posts

Barkati: Pengukuhan Ikamba Dapat Terjalin Hubungan Kekeluargaan Tanpa Adanya Perbedaan

natmed

BPH Migas Dukung Langkah Pemkot Samarinda Tertibkan Solar Subsidi

Sukri

Samarinda Tetap Beri Layanan Kesehatan Gratis Meski Tanpa BPJS

Sukri

Leave a Comment