Ekonomi

Sampah Jadi Manfaat Kalau Dikelola dengan Baik

Teks: Suasana Lingkungan di RT 43 Kelurahan Sempaja Timur (Natmed.id/Sukri)

Samarinda, Natmed.id – Masyarakat sering kali menganggap persoalan sampah sebagai tanggung jawab petugas kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Namun, bagi Masrukhi Ketua RT 43 Kelurahan Sempaja Timur, kunci utama penyelesaian masalah ini justru berada di hulu, yakni di dalam rumah tangga dan pola pikir setiap individu.

Teks: Ketua RT. 43 Kelurahan Sempaja Timur, Masrukhi (Natmed.id/Sukri)

Menurut Ketua RT, Masrukhi bahwa saat ini memfokuskan energinya untuk menghidupkan kembali Bank Sampah Unit di lingkungannya. Baginya, menyediakan infrastruktur sampah jauh lebih mudah dibandingkan membentuk kesadaran kolektif warga.

“Yang susah itu membentuk karakter warga. Bagaimana mengubah mindset yang dulunya terbiasa membuang sampah sembarangan atau mencampur semua jenis limbah, tiba-tiba harus beralih ke pola hidup memilah,”ungkap Masrukhi, Senin, Februari 2026.

Lebih lanjut, ungkap Masrukhi. salah satu inovasi yang ia banggakan adalah Bank Sampah Kejujuran. Nama ini diambil bukan tanpa alasan. Bersama Direktur Bank Sampah RT 43, ia mengajak warga untuk mengelola sampahnya secara mandiri dan transparan.

Ia menjelaskan dalam operasionalnya, warga yang membawa sampah anorganik diminta untuk menimbang sendiri dan mencatatkan hasilnya pada buku rekapan yang terbuat dari bahan bekas seperti kalender.

“Jadi nasabah yang catat sendiri jenis sampahnya, apakah itu plastik, kardus, atau besi. Kami ingin menanamkan rasa memiliki dan kejujuran. Hasil penjualannya pun nanti dikembalikan seutuhnya ke warga,” jelasnya.

Selain punya tanggung jawab, ia melihat kondisi lapangan yang terlihat sampah tidak tertata dengan baik, dari sanalah inisiiatif muncul bagaimana sampah yang ada dikelola dengan baik.

Berdasarkan hasil pertemuan dengan pihak DLH, angka produksi sampah per jiwa di Samarinda terus merangkak naik. Jika pada tahun 2023 angka rata-rata berada di level 0,5 kilogram per jiwa, kini di tahun 2024 angka tersebut melonjak menjadi 0,7 kilogram.

“Kalau kita kalkulasikan dengan jumlah penduduk Samarinda, masuk akal jika sampah yang masuk ke TPA bisa mencapai 500 ton per hari. Itulah mengapa saya selalu menghimbau warga atau saat gotong royong rutin setiap minggu pertama dan ketiga. Kita harus menekan angka ini dari lingkungan terkecil,” ucapnya.

Ia, tidak hanya sekadar memberi imbauan. Tapi mempraktikkan langsung prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di lingkungannya. Bagaimana jeriken bekas minyak goreng bisa disulap menjadi pot tanaman yang cantik, atau gelas plastik bekas air mineral yang dirangkai menjadi lampion hias.

Meskipun saat ini pengelolaan bank sampah di RT 43 masih bersifat swadaya dari kas RT dan warga, Ia  memiliki mimpi besar dan berharap kedepannya terdapat alat pengolahan seperti insinerator skala kecil atau mesin pencetak paving block dari limbah plastik.

“Kami ingin sampah tidak ada yang terbuang sia-sia. Kalau kita punya sarananya, plastik-plastik itu bisa dilebur jadi biji plastik atau dicetak menjadi kursi taman,”harapnya.

Related posts

Illegal Fishing di Asia dan Afrika Terbilang Cukup Besar

Aminah

PAD Samarinda Masih Terkendala Kepatuhan Pajak

Aminah

Kolaborasi Atasi Inflasi, Polres dan BEM Pasuruan Bagikan Beras Murah

Sahal

Leave a Comment