Samarinda

Resep Bubur Peca Generasi Keempat, Tradisi Berusia Seabad di Masjid Shiratal Mustaqiem

Teks: Mardiana (60) Juru Masak Bubur Peca Generasi Keempat Menjaga Resep Warisan Lebih dari 100 Tahun di Masjid Shiratal Mustaqiem,Sabtu,21/2/26(Natmed.id/Aminah)

Samarinda, Natmed.id – Aroma rempah menyeruak dari halaman Masjid Shiratal Mustaqiem, masjid tertua di Kota Samarinda. Sejak siang hari, kepulan asap dari tungku kayu menandai dimulainya satu tradisi yang telah bertahan lebih dari satu abad memasak bubur peca, hidangan khas berbuka puasa warga Samarinda Seberang.

Teks: Bubur Peca yang Telah Matang Dipindahkan Dari Area Dapur Menuju Tempat Penyajian,Sabtu,21/2/26(Natmed.id/Aminah)

Di balik ratusan porsi bubur peca yang dibagikan setiap Ramadan, berdiri sosok Mardiana (60), perempuan yang dikenal jemaah dengan sapaan Tante Alus. Ia adalah generasi keempat penjaga resep bubur peca yang diwariskan secara turun-temurun di masjid bersejarah tersebut.

“Saya sudah memasak bubur peca sejak muda. Dulu nenek saya yang pegang dapur, lalu ibu saya, sekarang giliran saya,” tutur Mardiana saat ditemui di dapur masjid, Sabtu petang, 21 Februari 2026.

Sejak pukul 8 pagi, Mardiana bersama tim dapur mulai bekerja. Proses memasak dilakukan menggunakan tungku kayu berbahan drum besi. Api besar terus dijaga agar panas stabil, sebab bubur peca harus diaduk perlahan selama berjam-jam agar tidak menggumpal.

“Kalau ngaduknya salah, buburnya bisa menggumpal. Ini enggak bisa ditinggal. Harus sabar,” ujarnya.

Dalam sehari, dapur Masjid Shiratal Mustaqiem menghabiskan sedikitnya 25 kilogram beras. Jumlah itu bisa meningkat hingga 40 kilogram jika ada tamu atau lonjakan jamaah.

“Hari-hari pertama Ramadan biasanya 24 sampai 25 kilo. Tapi kalau ada tamu, bisa sampai 40 kilo. Itu bisa jadi 350 sampai 400 porsi,” kata Mardiana.

Bubur peca dibuat dari beras, santan kelapa, dan ayam sebagai bahan utama. Rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, kayu manis, pala, dan ketumbar menjadi kunci cita rasanya. Ayam direbus untuk diambil kaldunya, lalu disuwir dan dimasukkan kembali ke dalam bubur.

“Bumbunya semua ditakar. Garam saja enggak sampai satu bungkus. Kalau kunyitnya bagus, cukup empat sendok,” jelasnya.

Proses memasak dimulai dengan merebus air dan kaldu ayam, kemudian beras dimasukkan dan diaduk hingga mengering. Setelah itu, santan dan bumbu rempah dicampurkan, lalu dimasak hingga tekstur bubur halus dan pekat.

“Masaknya lama. Tapi ini sudah tradisi. Dari dulu memang begitu caranya,” ujarnya.

Mardiana dibantu enam orang juru masak serta puluhan remaja dari Ikatan Pemuda Remaja Masjid (IPRM). Para remaja bertugas mengaduk bubur, menyiapkan piring, hingga membagikan bubur kepada jamaah saat waktu berbuka tiba.

Bubur peca biasanya dibagikan pertama kali selepas salat Zuhur kepada warga sekitar, lalu kembali disajikan saat berbuka puasa di masjid. Jika masih tersisa, bubur akan diberikan kepada siapa pun yang datang.

“Kami isi dulu semua piring. Takut enggak cukup. Kalau ada sisa, baru dibagi lagi,” kata Mardiana.

Tradisi bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem telah berlangsung lebih dari 100 tahun dan menjadi identitas Ramadan bagi warga Samarinda Seberang.

“Orang bilang bubur peca itu makanan panjang umur. Ada juga yang bilang obat mag. Tapi yang jelas ini sudah jadi berkah dan tradisi,” ucap Mardiana.

Kini, di usia senjanya, Mardiana berharap generasi muda masjid dapat melanjutkan warisan tersebut. “Harapannya anak-anak muda ini bisa teruskan. Supaya bubur peca tetap ada sampai kapan pun,” tutupnya.

Related posts

Cegah Penularan Covid-19, Karyawan Lotte Grosir Gunakan APD

natmed

Pembahasan APBD Perubahan Kaltim Ditunda

natmed

Pembangunan Dimulai dari RT, Musrenbang Samarinda Ilir Libatkan Partisipasi Warga

Aminah