Samarinda, Natmed.id – Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan arah politik partainya pasca-Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 dengan menempatkan kantor partai sebagai rumah rakyat.
Pesan tersebut disampaikan Hasto saat berkunjung ke Kalimantan Timur (Kaltim) dan bertemu kader serta awak media dalam agenda Ngopi Bareng Sekjen PDIP di Kantor DPD PDIP Kaltim, Samarinda, Senin 2 Februari 2026.
“Hasil Rakernas menegaskan kantor partai harus menjadi rumah rakyat. Tempat advokasi, komunikasi politik, dan penggemblengan kader, terutama anak-anak muda, agar memiliki kesadaran kebangsaan dalam mewujudkan cita-cita Indonesia,” kata Hasto.
Rakernas PDIP 2026 yang digelar pada 10–12 Januari lalu tidak boleh berhenti pada rekomendasi normatif, tetapi harus diterjemahkan menjadi gerakan kepartaian konkret di daerah. Salah satu fokus utama adalah politik ekologi yang dinilai semakin relevan di wilayah kaya sumber daya seperti Kalimantan.
Hasto secara terbuka menyinggung maraknya aktivitas pertambangan yang dinilainya belum memperhatikan aspek ekologis. Ia menyebut kerusakan sungai, mata air, dan hutan menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat.
“Dari atas pesawat kita bisa melihat penambangan yang tidak memperhatikan aspek ekologi. Sungai harus dijaga, mata air dilindungi, hutan dilestarikan. Reboisasi dan pembangunan kebun raya harus menjadi gerakan nyata,” ujarnya.
Politik ekologi bukan sekadar jargon, tetapi mandat ideologis yang harus diikuti dengan keberpihakan nyata partai dalam kasus-kasus lingkungan, termasuk pembalakan hutan yang merugikan rakyat.
“Tadi juga kami melihat ada kasus pembalakan hutan. Itu bertentangan dengan politik ekologi Rakernas. Partai harus hadir untuk advokasi rakyat,” tegasnya.
Dalam pertemuan dengan kader PDIP Kaltim, Hasto menilai regenerasi kepemimpinan mulai terlihat dengan banyaknya anak muda yang mengisi struktur DPD. Ia mendorong militansi tersebut dibarengi dengan pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan partai.
“Fungsi-fungsi partai harus dijalankan dengan teknologi informasi. Rapat daring bisa dilakukan, tetapi yang paling penting adalah advokasi rakyat tetap berjalan,” katanya.
Ia juga menyoroti kondisi ekonomi nasional yang menurutnya masih dibayangi ketidakpastian hukum, rendahnya realisasi investasi, dan tingginya biaya ekonomi. Dalam situasi tersebut, PDIP diminta memperkuat gerakan ekonomi kerakyatan.
“Pemerintah dan partai harus turun ke bawah, menempatkan skala prioritas kehadiran partai dalam membela rakyat tertindas. Jangan takut memperjuangkan kebenaran,” ujar Hasto.
Agenda pertemuan ditutup dengan penyerahan bibit pohon kepada perwakilan media. Hasto menyebut tradisi merawat dan menanam biji-bijian sebagai simbol politik ekologis yang telah lama ditekankan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
“Bu Mega punya tradisi merawat, dari biji saja kita bisa menciptakan oksigen dan kehidupan. Kalau setiap orang menanam pohon, kita bisa menghidupkan kembali Indonesia,” katanya.
Menurut Hasto, politik bagi PDIP tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari, termasuk menjaga alam sebagai sumber kehidupan rakyat.
“Bumi ini adalah kehidupan kita. Politik harus hadir untuk menjaga dan menghasilkan kehidupan itu,” pungkasnya.
