Nasional

Parang Gombong Wajah Alam yang Tersingkap

Teks: Hamparan rumput danau dan gunung di Parang Gombong Sukasari Purwakarta

Purwakarta, Natmed.id – Sukarela aku kembali ke kampung halaman di Sukasari, Purwakarta Jawa Barat pada Kamis 1 Januari 2026, namun pemandangan yang kutemui berbeda jauh dari memori masa kecilku. Desa yang dulu sunyi kini dipenuhi deru kendaraan, manusia, dan hiruk pikuk yang tak pernah kupikirkan akan hadir di tempat ini.

Teks: Antrian pengunjung menuju pintu masuk Wisata Parang Gombong

Parang Gombong, sebuah hamparan padang rumput di tepi Waduk Jatiluhur yang selama puluhan tahun hanya dikenal oleh warga lokal, tiba‑tiba berubah menjadi salah satu destinasi wisata alam yang ramai di Jawa Barat. Lokasi ini bahkan dipilih menjadi latar dalam video musik musisi internasional Rich Brian, sebuah pengakuan populer yang makin mempercepat lonjakan kunjungan wisatawan ke tempat ini.

Pada Kamis siang itu, jalan menuju Parang Gombong tidak lagi bergerak. Ribuan kendaraan roda dua dan roda empat terjebak dalam antrean panjang yang mengular dari Kampung Ciputat hingga Kiara Bandung, Desa Kutamanah. Polisi dan petugas lalu lintas kewalahan bahkan hingga pukul 22.00 WIB, arus kendaraan belum sepenuhnya kembali normal.

“Ini baru pertama kali terjadi. Dari pagi sampai malam, macet total, sama sekali tidak bergerak,” ujar Emi Maryami, seorang warga Desa Kertamanah yang berusaha menjemput adiknya.

Tingkat kepadatan yang terjadi mirip dengan antrian kendaraan libur panjang di jalur wisata kelas atas seperti Puncak Bogor pada masa libur Natal dan Tahun Baru.

Lebih jauh, Camat Sukasari Nono Juhana menyatakan bahwa kemacetan ini terjadi akibat membludaknya wisatawan yang datang bersamaan dari berbagai daerah, terutama dari Karawang, Bekasi, dan Jakarta. Menurutnya, kendaraan yang masuk bukan lagi puluhan, melainkan ribuan. “Ini merupakan yang pertama dalam sejarah Sukasari macet seperti ini,” kata Emi.

Sekitar dua tahun terakhir, Parang Gombong mengalami transformasi yang cukup cepat. Dulu, warga lokal hanya mengenal tempat ini sebagai hamparan alam yang sunyi, sering dimanfaatkan sebagai lokasi berkemah yang tenang atau ruang piknik sederhana di tepi waduk. Namun, pada Agustus dan September 2025, Parang Gombong menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar dalam video musik terbaru Rich Brian, yang menampilkan lanskap alamnya secara sinematik.

Video itu menampilkan padang rumput, danau yang tenang, serta pegunungan di kejauhan layaknya lanskap destinasi wisata dunia. Keindahan itu menjadikannya semakin populer, baik di kalangan wisatawan domestik maupun pecinta alam.

Kehadiran Rich Brian bukan hanya soal estetika. Dalam satu klip video musiknya, juga terlihat pemandangan jalan yang masih rusak di beberapa titik Jalur Lingkar Barat, bagian dari infrastruktur yang dulu selalu menghambat akses ke Sukasari.

Meski jalur hotmix sempat diperbaiki pada Oktober 2025, perbaikan itu justru menjadi pisau bermata dua. Akses jalan yang lebih mulus membuat wisatawan merasa lebih tertarik dengan Parang Gombong, sehingga kunjungan meningkat drastis dalam waktu singkat. Namun perbaikan itu belum cukup. Jalan masih sempit di banyak titik, dan belum ada sistem pengaturan arus lalu lintas yang efektif saat lonjakan pengunjung seperti pada libur Tahun Baru.

“Perbaikan jalan membuat destinasi ini makin mudah diakses, tetapi kita belum siap mengantisipasi lonjakan kendaraan seperti ini,” kata Emi.

Data dari aparat setempat menunjukkan bahwa antrean kendaraan menumpuk lebih dari satu kilometer dari pintu masuk kawasan wisata. Banyak pengendara yang akhirnya memilih mematikan mesin dan menunggu berjam-jam sebelum arus bisa sedikit dilonggarkan.

Tak semua dampaknya negatif aktivitas warga desa justru meningkat, warung makan di sepanjang bibir waduk yang dulu cenderung sepi kini kebanjiran pembeli. Pelaku UMKM lokal melihat peluang, mulai dari penjualan nasi liwet hingga ikan bakar segar khas kawasan Waduk Jatiluhur yang menjadi menu favorit banyak pengunjung.

Perubahan yang cepat ini juga memunculkan pertanyaan besar, apakah Sukasari siap menjadi destinasi wisata besar? Infrastruktur yang belum memadai, pengaturan arus lalu lintas yang minim, serta kebutuhan akan fasilitas sanitasi dan ruang parkir yang lebih luas adalah tantangan serius.

Pemerintah Kabupaten Purwakarta sendiri tengah menyusun rencana lanjutan pembangunan Jalur Lingkar Barat, infrastruktur yang sejak lama diharapkan bisa memperlancar akses darat dari berbagai arah. Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, sempat menyatakan bahwa pembangunan lanjutan akan dimulai pada 2026, termasuk penyelesaian jalan yang menghubungkan Sukasari dengan wilayah tetangga.

Namun, rencana itu memerlukan biaya besar dan waktu panjang. Sementara kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan terus meningkat tanpa henti menjadikan Sukasari sebagai contoh konkrit bagaimana potensi wisata bisa tumbuh lebih cepat daripada kesiapan infrastrukturnya.

Bagi saya, yang dibesarkan di kampung ini, perubahan ini terasa seperti duri dalam daging, sekaligus menyenangkan dan mengkhawatirkan. Ada kebanggaan melihat kampung halaman dikenal luas, namun ada juga rasa sedih melihat keterbatasan infrastruktur yang belum siap menopang geliat wisata yang sedemikian cepat.

Parang Gombong hari ini adalah cermin. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah ruang bisa tumbuh cepat, sekaligus rapuh jika tak diiringi perencanaan. Di tengah euforia wisata, kita perlu bertanya: apakah kita hanya ingin ramai sesaat, atau ingin membangun keberlanjutan?

Sebab pada akhirnya, Parang Gombong bukan hanya milik wisatawan. Ia adalah rumah bagi warga, ruang hidup bagi generasi yang tumbuh di sekitarnya, dan warisan alam yang seharusnya dijaga bersama.

Jika perubahan tak bisa dihindari, maka yang paling penting adalah memastikan perubahan itu tidak menghilangkan ruh tempat yang selama ini kita cintai.

Related posts

Uji Coba Nasional Penindakan Truk ODOL Dimulai dari Tol dan Kawasan Industri

Aminah

Probolinggo Gaungkan Budaya Inovasi Lewat Penghargaan Inovator Daerah 2025

Sahal

Choking Serahkan Buku untuk Sekjen Bawaslu RI

Febiana

Leave a Comment